Senin, 8 Agustus 2022

WhatsApp ”Dirents”, Cek Pembaharuan

Berita Terkait

Ilustrasi: Platform instant messaging WhatsApp. (Defence Talk)

batampos- Para pengguna WhatsApp (WA) harus segera melakukan pengecekan pembaharuan agar terhindar dari perentasan. Ini karena WA dikabarkan telah diretas.

BACA JUGA: Depresi Bisa Disembuhkan, Kuncinya Patuhi Pengobatan

Menurut The Sun, aksi peretasan salah satu platform instant messaging terpopuler di dunia ini konon didanai sebuah perusahaan yang didanai oleh investor Facebook. Orang yang mendanai perusahaan tersebut adalah entrepreneur Peter Thiel yang juga diketahui jadi salah satu investor awal Facebook pada 2004 lalu.

Thiel merupakan salah satu pendiri PayPal dan telah berinvestasi di banyak perusahaan. Salah satunya adalah Founders Fund, pendukung utama perusahaan bernama Boldend.

Adapun Boldend, menurut New York Times, diam-diam mengatakan kepada raksasa pertahanan Raytheon bahwa mereka dapat meretas WhatsApp pada Januari 2021 lalu. Untungnya, celah keamanan tersebut dilaporkan terputus beberapa saat setelah pembaruan perangkat lunak.

Sementara itu, Boldend tutup mulut tentang bisnisnya karena hanya memiliki satu pelanggan besar, yakni pemerintah Amerika Serikat (AS). Tetapi dugaan kegiatannya menunjukkan bahwa ia ingin menghasilkan kekuatan di kedua sisi ruang keamanan siber yakni melindungi dan menyerang.

Tidak dijelaskan secara rinci celah seperti apa yang digunakan Boldend untuk ‘meretas’ sistem WhatsApp. Namun, disebutkan dalam laporan The Sun, WhatsApp sudah menambal celah kerentanan yang dipakai Boldend untuk mengakses sistemnya pada Januari 2021. Dengan demikian, saat ini sistem WhatsApp dapat dipastikan telah aman.

Soal celah dan peretasan, sebelumnya FBI mengklaim telah diam-diam membeli spyware Pegasus milik NSO Group. Dikatakan, para ahli keamanan AS kini mencoba mengembangkan spyware serupa milik mereka sendiri.

Menurut rumor yang beredar luas, Dinas Intelijen dan Keamanan AS tengah melakukan eksplorasi menggunakan Pegasus untuk meretas sejumlah orang Amerika. Dinas Intelijen kabarnya tengah membeli dan menguji Pegasus selama bertahun-tahun.

Alat peretas tersebut sebelumnya menjadi kontroversi lantaran diduga sudah disalahgunakan untuk meretas aktivis HAM, jurnalis, hingga berbagai pejabat dan tokoh publik. (*)

Reporter: Jpgroup

Update