Rabu, 7 Desember 2022

Henti Jantung dan Serangan Jantung Berbeda, Ini Bahayanya dan Cara Mencegahnya

Berita Terkait

Ilustrasi bahaya henti jantung. (Cloudfront.net)

batampos – Henti jantung berbeda dengan serangan jantung. Henti jantung atau sudden cardiac arrest adalah sebuah kondisi yang membahayakan seseorang. Ketika jantung seseorang berhenti mendadak, ia bisa tiba-tiba tidak sadarkan diri hingga berujung kematian. Kondisi henti jantung ternyata tidak sama dengan serangan jantung.

Dalam perbincangan virtual dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Mayapada Hospital Surabaya dr. Samuel Sudanawidjaja, Sp.Jp, kondisi henti jantung dan serangan jantung ternyata berbeda dari mulai gejalanya hingga penanganannya. Menurutnya, henti jantung adalah suatu kondisi atau istilah di mana jantung berhenti mendadak, karena suatu sebab tertentu.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Mayapada Hospital Surabaya dr. Samuel Sudanawidjaja, Sp.Jp (Mayapada Hospital for JawaPos.com)

“Jadi sama sekali tidak ada aktivitas dari jantung itu. Tiba-tiba otot jantung terhenti, tak bisa memompa darah lagi, tak ada aktivitas apa-apa,” kata dr. Samuel kepada JawaPos.com secara virtual, Kamis (10/2).

Baca juga:Tasya Kamila Kurangi Penggunaan Plastik

Menurutnya, waktu emas atau golden period untuk menolong seseorang dari kondisi henti jantung yakni hanya berlangsung sangat singkat, hanya 3 menit. Jika terlambat sedikit saja, akan menyebabkan kerusakan otak hingga koma atau berujung kematian.

“Kalau kita tolong dalam waktu yang cepat, itu masih ada kemungkinan untuk dihidupkan kembali. Jadi memang angka kematiannya sangat tinggi. Henti jantung ini biasanya kejadiannya di luar rumah sakit ya. Ini perlu pertolongan yang cepat dan tepat. Kita punya waktu kalau terjadi henti jantung sekitar 3 menit, menyelamatkan pasien. 3 menit saja. Karena setelah 3 menit, otak mulai mengalami kerusakan,” jelasnya.

“Jadi katakanlah kita agak delay menolong, mungkin fungsi jantung bisa dikembalikan, mungkin jantungnya berdenyut lagi, tetapi orangnya mungkin tak pernah bangun atau dalam kondisi koma terus karena otak sudah mulai mengalami kerusakan. Jadi idealnya henti jantung ditolong maksimal 3 menit,” tambah dr. Samuel.

Beda dengan Serangan Jantung

Serangan jantung berbeda dengan henti jantung. Serangan jantung atau sindrom koroner akut adalah penyakit jantung serius. Kondisi ini terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan aliran darah sesuai kebutuhan. Jadi, fungsi jantung dalam mengalirkan darah ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Jika dibiarkan begitu saja, kondisi ini bisa berakibat fatal hingga hilangnya nyawa.

“Serangan jantung itu kondisi di mana pembuluh darah koronernya itu tersumbat sehingga terjadi kerusakan otot jantung. Serangan jantung itu menjadi salah satu sebab dari henti jantung. Tetapi tak semua serangan jantung akan henti jantung, tak semua. Ya, serangan jantung itu termasuk Penyakit Jantung Koroner. Dan kalau terjadi serangan jantung akut, resiko untuk terjadi henti jantung itu sekitar 30 persen,” ungkapnya.

Dan jika seseorang mengalami serangan jantung, maka mereka akan memiliki golden period lebih lama dibanding henti jantung, yakni sekitar 2 jam. Hasil yang terbaik adalah pertolongan dilakukan dalam waktu 2 jam.

“Sebenarnya kita masih punya waktu sampai 6-12 jam, tapi prinsipnya makin cepat makin baik,” kata dr. Samuel.

Lalu apa gejala serangan jantung dan henti jantung?

Menurut dr. Samuel, henti jantung sulit diketahui gejalanya, bahkan hampir tak ada gejala pendahuluan. Seseorang bisa langsung terjatuh dan tak bernapas.

“Henti jantung tak ada gejalanya, tiba-tiba saja terjatuh dan tak bernapas, tanpa gejala orangnya bisa baik-baik saja, tiba-tiba jatuh saja, tanpa apa-apa. Tanpa gejala langsung jatuh, tak bernapas. Ya mungkin bisa ada kejang atau ngorok sebentar karena jantung tiba-tiba berhenti,” jelasnya.

Sedangkan serangan jantung, gejala spesifiknya, pasien merasa tak enak di dada, rasa seperti tertekan benda berat, atau rasa panas di dada. Rasa tak enak itu bisa di tengah, kiri, kanan di punggung, bisa menjalar sampai ke rahang dan lengan.

“Yang sering di dada bagian tengah, rasa tak enak, biasanya disertai keringat dingin yang banyak sekali,” jelasnya.

Bergeser ke Usia Muda

Kondisi henti jantung dan serangan jantung, trennya lebih bergeser ke usia lebih muda saat ini. Yaitu umur 40-50 atau bahkan di bawah 40.

“Terbanyak 40-50, usia tua ada, dan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Karena usia 40-50 itu perempuan masih dikatakan terlindungi hormon estrogen. Masih menstruasi. Perempuan meningkat resikonya setelah menopause,” tambahnya.

Pemicunya

Kondisi henti jantung bisa disebabkan beberapa pemicu. Pertama bisa karena obat, makanan dan minuman tertentu, hingga penyebab utamanya adalah gangguan irama, ada satu irama yang berbahaya, yang kita sebut ventrikel takikardi. Gangguan irama itu menyebabkan jantung berhenti.

“Nah kenapa bisa terjadi gangguan irama itu? Itu ada pemicunya biasanya, antara lain obat-obatan yang merangsang jantung. Misalnya, yang mudah ditemukan itu obat flu. Obat flu bisa menjadi pemicu, kalau orang itu punya bakat gangguan irama. Lalu narkoba, kopi, kalau orang itu memang punya bakat ke arah sana. Obat flu, mengandung obat untuk pilek golongan Pseudoephedrine. Itu bisa memicu gangguan irama jantung yang fatal. Kalau ingat beberapa waktu lalu, obat-obat flu pernah ditarik semua, dosisnya diperkecil semua. Kalau paracetamol saja aman tak masalah,” jelasnya.

Pemicu henti jantung lainnya, bisa saja riwayat kolesterol, diabetes, hipertensi, tapi tak berdampak secara langsung. Diabetes, hipertensi, dan kolesterol itu menyebabkan PJK atau Penyakit Jantung Koroner.

“Nah PJK sendiri menyebabkan gangguan irama. Kemudian gangguan iramanya itu akan menyebabkan henti jantung,” jelasnya.

Atau bisa juga disebabkan oleh faktor genetic, contohnya adalah sindrom brugada. Ini adalah suatu kondisi yang dibawa dari lahir. Adalah kelainan sistem produksi dari jantung yang dinamakan brugada.

“Orang-orang dengan sindroma brugada ini rawan mengalami henti jantung, apalagi setelah olahraga berat, minum kopi, itu rawan,” kata dr. Samuel.

Pertolongan Pertama Henti Jantung

Yaitu dengan melakukan pijat jantung atau disebut basic life support. Yaitu merupakan pijat jantung dengan bantuan napas, yang bisa dilakukan oleh orang awam yang sudah pernah dilatih.

”Karena kalau belum pernah dilatih, nanti cara pijatnya salah. Lokasinya salah. Bukannya tambah baik, bisa tambah jelek. Jadi sebaiknya pijat jantung dilakukan oleh seseorang yang memang sudah dilatih. Sambil menunggu pertolongan datang. Sambil ada orang lain menghubungi gawat darurat dan ambulans supaya segera datang,” katanya.

Cara Mencegahnya

Untuk mencegah terjadinya henti jantung atau PJK tentu dengan menjaga pola makan sehat dengan menghindari lemak jenuh seperti kulit yang lemaknya banyak, daging berlemak, hingga membatasi minyak goreng dan jangan dipakai ulang ya.

Perbanyak sayur dan buah, istirahat dan tidur minimal 6 jam. Lalu jangan lupa melakukan olahraga rutin seminggu 4 kali, 30 menit aerobik setiap hari juga bagus.

“Jaga keseimbangan kerja dan istirahat, hindari stres yg berlebihan. Stress akan Memicu hormon adrenalin yang tak baik untuk jantung,” katanya.

Setiap individu yang sudah berusia di atas 40 tahun juga disarankan untuk mulai melakukan pengecekan kesehatan secara rutin, EKG, hingga treadmill. Dan usia 30an juga sudah harus melakukan pengecekan kesehatan dasar seperti kolesterol dan diabetes.

Deteksi dan Tindakan:

Lakukan deteksi sedini mungkin untuk menghindari resiko penyakit menjadi serius. Jangan tunda melakukan tindakan apabila ada gejala yang dirasakan. Bila anda memiliki pertanyaan, anda bisa melakukan konsultasi dengan dokter melalui klik link berikut: https://mayapadahospital.com/askdoctor dan dapatkan voucher diskon pemeriksaan medical check up.(*)

Reporter: JP Group

Update