Selasa, 16 Agustus 2022

Waspadai Diabetes Juga Terjadi pada Anak-anak

Berita Terkait

ILUSTRASI (PIXABAY)

batampos.co.id – Diabetes melitus tidak hanya terjadi kepada orang dewasa. Berdasar data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 1.346 anak menderita penyakit tersebut. Sebanyak 167 anak di antaranya mengidap diabetes tipe 2. Jumlah itu diyakini merupakan fenomena gunung es.

Ketua Umum IDAI dr Piprim B. Yanuarso SpA(K) menjelaskan, Indonesia memiliki masalah dalam pencatatan jumlah kasus riil. Di luar data yang dimiliki, dia meyakini masih banyak anak yang mengidap diabetes. Mereka tidak tercatat. Entah karena tidak dirujuk ke layanan kesehatan atau malah meninggal sebelum diobati. ”Diperlukan peran orang tua dalam edukasi,” ujarnya.

Sebab, pemeriksaan dan perawatan anak yang mengalami diabetes lebih sulit jika dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itu, orang tua harus menyadari bahwa diabetes melitus tidak hanya diderita orang yang sudah lanjut usia, tetapi juga anak-anak. Menjaga pola makan sangat diperlukan.

Piprim menyatakan, hal yang paling mudah dan murah adalah mengontrol asupan makanan si kecil daripada mengobatinya. Sebab, penyakit itu berlangsung tahunan dan hanya bisa dikendalikan.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI dr Muhammad Faizi SpA menyatakan, anak yang mengidap diabetes tipe 1 acapkali tidak bergejala. ”Ada pasien yang datang sudah dalam keadaan koma,” ungkapnya. Diabetes tipe tersebut merupakan kerusakan pada sel beta pankreas sehingga tubuh kekurangan insulin.

Selanjutnya, diabetes tipe 2 sering kali dialami anak obesitas maupun yang kurang gerak. Yang mengkhawatirkan adalah 70 persen anak penyandang diabetes pernah mengalami kadar gula yang tinggi, sesak napas, hingga koma.

Sementara itu, Executive Director International Pediatric Association (IPA) Prof dr Aman Pulungan SpA(K) menjelaskan bahwa akses insulin di tanah air belum merata. Bahkan bisa dikatakan masih rendah. Padahal, insulin diperlukan penyandang diabetes tipe 1. ”Akses insulin ini tidak merata. Padahal, pasien ada di mana-mana,” katanya.

Akses insulin biasanya mudah ditemukan di rumah sakit tipe A atau B. Namun, pada rumah sakit tipe C dan D, insulin sulit ditemukan. Salah satu alasannya, rumah sakit tipe C dan D dianggap tidak kompeten dalam memberikan insulin. ”Insulin hanya tersedia di kota besar di Pulau Jawa,” ungkap Aman. (*)

Reporter : Jpgroup

Update