Kamis, 11 Agustus 2022

Awet Muda dengan 2 Jenis Perawatan

Berita Terkait

Kunci Tampil Cantik Ada di 3 Jenis Makeup ini

Glossy dan Tahan Lama

Tawaran Gaji Rp 1,1 M untuk Pencicip Permen

Ilustrasi perawatan anti penuaan dini. (dok Le’poir Clinique)

batampos.co.id – Perawatan anti-aging atau penuaan dini makin digandrungi. Sebab hampir setiap orang ingin selalu awet muda.

Dalam webinar bersama Ahli Kecantikan dr. Lilim Cendana, M.Sc, AAARM dari Le’poir Clinique, Ancol, Jakarta Utara mengatakan anti-aging memberi arti bahwa proses penuaan bisa diperlambat, diterapi dan dioptimalkan kondisi tubuhnya seperti pada usia muda. Menurutnya menjadi tua adalah alamiah, namum bisa diperlambat.

“Secara usia kita pasti akan menua, namun pengertian awet muda di sini bukan hanya cantik wajah saja yang dikarenakan perawatan estetik, namun lebih terfokus kepada kondisi organ-organ tubuh kita yang bisa berfungsi secara optimal seperti usia muda,” katanya secara daring baru-baru ini.

BACA JUGA:

Misalkan, kata dia, usia biologis pasien A adalah 50 tahun, tentunya sudah banyak penurunan kondisi kesehatan. Dengan konsep terapi ‘anti aging’ berharap bisa mengoptimalkan kembali kinerja organ pasien A seperti di usia 30 tahun.

“Hal ini salah satunya disebabkan oleh produksi hormon dalam tubuh yang menurun seiring dengam bertambahnya usia, akibatnya timbul berbagai masalah terkait kesehatan dan kualitas hidup seseorang,” katanya.

Apa saja gejala penuaan dini?

Gejala penuaan yang dirasakan adalah kekenyalan kulit yang munurun, munculnya keriput maupun flek wajah, penurunan daya ingat, kehidupan seksual dan libido menurun, obesitas, hingga timbul berbagai penyakit degeneratif lainnya seperti gangguan jantung, kanker, stroke, alzheimer, osteoporosis. Hal-hal tersebut di atas bisa diminimalkan dan dicegah dengan mengoptimalkan level hormon yang beredar dalam tubuh kita.

Kenali 2 Terapi Mengatasinya

1. Terapi Hormonal Bioidentik

Anti-aging bisa diatasi dengan Terapi Hormonal Bioidentik. Sesuai dengan namanya bioidentik artinya molekul hormon yang dibentuk adalah identik dengan molekul hormon dalam tubuh kita sehingga tidak ada efek samping negatif terhadap tubuh.

Lain halnya, dengan hormon sintetik. Sebelum memulai terapi, pasien akan dijadwalkan untuk pengecekan kadar hormon dalam darahnya terlebih dahulu, untuk melihat penurunannya berada di level mana dan sebagai tolak ukur keberhasilan terapi nantinya. Dari hasil darah dan riwayat pemeriksaan pasien baru bisa ditentukan program terapinya untuk 3 bulan ke depan seperti apa dimana mencakup supplementasi oral, cream ataupun injeksi.

Untuk supplementasi oral dan cream sendiri, kandungannya adalah hormon seperti misalnya estrogen, progesterone, testosterone ataupun kombinasi. Injeksi yang digunakan pun untuk meningkatkan immunitas tubuh sehingga sistim hormon bisa bekerja lebih optimal, termasuk pemberian anti-oksidan untuk detox dan menangkal radikal bebas.

2. Terapi Regeneratif

Terapi ini memulihkan kembali ke fungsi normalnya. Kerusakan jaringan dan organ yang berat akibat trauma, penyakit kronik, dan penyakit bawaan di mana tubuh kita tidak mampu melakukan perbaikan fungsi jaringan dan organ akan sangat terbantu sekali dengan teknologi regeneratif ini, salah satu yang diminati adalah terapi sel punca atau stemcell. Stemcell dapat mengubah, menyesuaikan dan memperbanyak diri untuk menggantikan sel yang rusak akibat suatu penyakit seperti pada penyakit diabetes, kanker, stroke, osteoarthritis dan lainnya. (*)

Reporter : JP Group

Update