Sabtu, 29 Januari 2022

Stop Jadi Bucin! ‘I Love You’ Tidak Harus Berhubungan Seksual

Berita Terkait

Ilustrasi waspada dampak hubungan tidak sehat atau toxic relationship. (Photo by Candid_Shots)

Batampos – Kasus kematian Novia Widyasari, mahasiswi Universitas Brawijaya yang ditemukan bunuh diri di makam ayahnya di Mojokerto masih menjadi sorotan. Memilukan. Novia bunuh diri dengan minum racun akibat depresi setelah diperkosa dan dipaksa aborsi oleh kekasihnya, Bripda Randy Bagus Hari Sasongko karena enggan menikahi dengan alasan karier.

Semua bermula pada perkenalan di distro baju yang berada di Malang pada Oktober 2019. Novia dan Randy lantas berpacaran dan melakukan hubungan hubungan seksual. Novia sudah mengalami berbagai macam tindak kekerasan dari kekasihnya sejak awal berpacaran. Aborsi pertama dilakukan saat usia kandungan dalam hitungan minggu di kos. Sedangkan aborsi kedua, saat kandungan empat bulan.

“Adanya suatu bukti selama pacaran dari 2019 sampai dengan Desember 2021 melakukan aborsi bersama. Melakukan aborsi bulan Maret 2020 dan Agustus 2021,” ujar Wakapolda Jawa Timur, Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo dalam konferensi pers, Sabtu (4/12) malam.

BACA JUGA: 7 Gerakan Senam Otak Untuk Tingkatkan Konsentrasi

Di kehidupan nyata ini, memang tidak sedikit para perempuan yang sedang jatuh cinta menjadi bucin (budak cinta) pacarnya. Salah satunya terperdaya untuk berhubungan seksual dengan pacar. Padahal untuk mengungkapkan rasa kasih sayang atau cinta, tidak harus berhubungan seksual. Jadi stop jadi bucin ya girls!.

Menurut psikiater dr. Nalini Muhdi., Sp. KJ (K), apa yang dilakukan Novia merupakan dampak hubungan tidak sehat atau Toxic relationship. Dalam hubungan ini biasa dua orang tidak saling dukung satu sama lain. Sebaliknya keduanya berkompetisi untuk melemahkan. Mereka juga tidak saling hormat dan menghargai. Supaya itu tidak terjadi, Nalini memberikan tips bagaimana sebuah hubungan bisa lebih sehat. Ini dia caranya!

Berani Menolak dan Mengakhiri Hubungan

Ketika seseorang jatuh cinta, ia akan bersedia melakukan apa saja, termasuk memberikan keperawanannya kepada pasangan. Padahal mungkin ia tidak mau. Ini harusnya tidak terjadi kalau wanita berani menolak. Wanita bisa menolak dengan kalimat yang baik. Namun, jika itu sudah tidak mempan dilakukan, mengakhiri hubungan sedini mungkin bisa menjadi solusinya.

Berteman dengan Orang Lain

Ketika punya hubungan dengan seseorang, kadang dunia serasa milik berdua. Nggak peduli, apalagi berteman dengan orang lain. Sejatinya sebagai makhluk sosial kita tetap harus berinteraksi dengan orang lain untuk menjaga pikiran tetap jernih dan netral.

Jangan Posesif!

Hubungan yang sehat tidak hanya mementingkan “aku” dan “kamu” saja, tetapi tentang “kita”. Jadi, penting menanamkan rasa percaya kepada pasangan masing-masing.

Punya Kegiatan Positif

Pacaran itu bukan melulu soal kemana-mana harus berdua, tetapi mengenal karakter masing-masing untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Untuk menjaga agar kamu tidak bucin kamu wajib punya aktivitas lain seperti berkomunitas atau berolahraga.

Menjadi Diri Sendiri

Inginnya membuat si Dia terkesan tapi jatuhnya malah membohongi diri sendiri. Ketika kamu sudah berkomitmen dengan si Dia, baiknya kamu tetap nyaman menunjukkan karakter aslimu, tidak hanya menampilkan yang baik-baik saja. Karena pasangan yang baik, mau menerima segala kelebihan dan kekurangan.

Ilustrasi waspada dampak hubungan tidak sehat atau toxic relationship. (rawpixel.com)

“I Love You” Tidak Harus Berhubungan Seksual

Nah, ini yang sedang populer diperbincangkan dalam kasusnya Novia Widyasari Rahayu. Dari sini kita bisa mengambil banyak hikmah. salah satunya adalah mengungkapkan rasa kasih dan sayang tidak perlu disimbolkan dengan berhubungan seksual. Salah satu cara menunjukkan kasih sayang adalah dengan mendukung mimpi pacar kamu.

Menjaga Jarak

Jangan bergantung! Jangan terlalu bersandar kepada orang lain apalagi kepada pacar. Yang menikah saja bisa bercerai, apalagi sekedar pacaran. Untuk itu kamu perlu mengalihkan fokusmu kepada kegiatan atau orang lain.

Tidak ada kata terlambat untuk terhindar dari toxic relationship. Bila saat ini kerabatmu sedang terjebak dalam cinta yang mematikan. Kamu bisa mulai menjangkaunya dengan cara mau menemani dan mendengarkan dengan empati. Namun bila tidak segera menunjukkan perubahan perilaku, jangan ragu untuk datang ke profesional ya. (*)

Reporter: JP Group

 

 

Update