Jumat, 9 Desember 2022

Seni Merawat Bonsai, Menuntut kejelian Si Pemilik

Berita Terkait

BONSAI HOKKINEN TEA (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

batampos.co.id – Bonsai adalah karya seni tiga dimensi yang menuntut perawatan teliti. Termasuk pada tahap awal.

Seniman bonsai David Adji menjelaskan, calon pohon yang dipilih harus memiliki satu syarat mutlak. Yakni, merupakan tanaman berkayu. ”Jenis tanaman lokal seperti cemara udang atau sancang (dewandaru, Red), sekarang makin banyak dipakai. Jenis-jenis tadi kuat ketika dikawat dan dipangkas,” paparnya.

Pria yang menekuni seni bonsai sejak awal 1990-an itu menjelaskan, syarat tumbuh bonsai sama dengan pohon pada umumnya. Media tanam tak jauh berbeda. Jenis dan frekuensi pemupukannya pun sama. Layaknya pohon, bonsai juga tumbuh baik di luar ruangan yang mendapat sinar matahari dan penghawaan berlimpah. Di antara koleksinya, ada yang memang merupakan tanaman yang tahan di iklim tropis. Misalnya, hokkien tea (Carmona retusa), sancang (Eugenia uniflora), maupun cemara udang (Causarina equistefolia).

BONSAI BUNGA SEPATU (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

”Bonsai relatif kuat kena panas, hujan, atau angin kencang. Kalau di dalam ruangan, bonsai malah jadi kurang bagus tumbuhnya,” lanjut David. Apalagi, jika ruangan tidak didukung dengan pencahayaan dan penghawaan yang baik. Penandanya, daun terlihat kekuningan dan kusam. Dalam kondisi ekstrem, daun bakal mulai rontok. Tanaman pun goyah. Di negara asalnya, Jepang, bonsai juga dikenalkan sebagai miniatur pohon yang ditanam di luar ruangan.

Menurut David, bonsai perlu mendapatkan perawatan rutin. Termasuk, ketika usia pohon berusia lebih dari lima tahun dan telah memiliki bentuk bagus. Pemilik Dr Bonsai Surabaya itu sering menemukan bentuk bonsai yang bagus jadi jelek karena kurang terawat.

Dia menjelaskan, perawatan bonsai menuntut kejelian si pemilik. Terutama, terkait pengawatan dan pruning atau pemangkasan. David menjelaskan, tahapan itu perlu untuk menjaga bonsai tampil proporsional.

PRUNING: Perbandingan daun sancang yang tumbuh dari cabang yang dipangkas (daun kecil) dan yang tidak pangkas (daun besar). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

”Seperti orang, kalau badannya kecil, tapi tangannya besar sekali, tentu enggak bagus. Sama seperti bonsai. Kalau cabangnya terlalu besar, enggak akan imbang dengan batangnya,” tegasnya.

Pria yang tinggal di Surabaya Barat tersebut menjelaskan, pemangkasan membantu membentuk ranting atau cabang. Bagian yang tumbuh pun ukurannya akan lebih kecil. David mencontohkan bonsai sancang miliknya yang memiliki ukuran daun sebesar beras. ”Padahal, pas ditanam di kebun, ukuran daunnya besar-besar,” lanjutnya.

David menilai, seniman bonsai tak cuma berbekal pengetahuan. ”Sekarang ada beberapa nursery yang bikin sekolah bonsai. Tapi, merawat bonsai butuh pengalaman dan latihan,” tegasnya.

Menurut dia, saat ini banyak seniman bonsai andal di tanah air. Hal itu dinilainya membuat Indonesia ada di tiga besar dunia untuk urusan bonsai, bersaing dengan Jepang dan Tiongkok. (*)

Reporter : Jpgroup

Update