Kamis, 11 Agustus 2022

Preeklamsia Paling Jadi Ancaman, Skrinning dan Deteksi Dini Bisa Cegah Komplikasi Kehamilan

Berita Terkait

Kunci Tampil Cantik Ada di 3 Jenis Makeup ini

Glossy dan Tahan Lama

Tawaran Gaji Rp 1,1 M untuk Pencicip Permen

Ilustrasi ibu hamil. (Istimewa)

batampos – Preeklamsia sampai saat ini masih menjadi ancaman pada ibu hamil (bumil). Tindakan skrinning dan deteksi dini disarankan untuk mencegah terjadinya komplikasi kehamilan.

Preeklamsia adalah kondisi yang terjadi karena peningkatan tekanan darah yang hanya terjadi pada saat kehamilan. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi, termasuk kerusakan pada organ vital, khususnya ginjal dan hati.

Preeklamsia sendiri biasanya dimulai setelah minggu ke-20, namun seringnya menimpa ibu hamil yang sebelumnya tidak memiliki riwayat hipertensi. Preeklamsia dapat muncul tiba-tiba.

”Biasanya ibu hamil tidak menyadari saat tensinya tinggi karena sebelum kehamilan riwayat tensi baik. Maka dari itu, penting untuk dilakukan antenatal care dan skrining apalagi ibu hamil memiliki faktor risiko atau riiwayat kehamilan sebelumnya bermasalah,” kata Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Konsultan Fetomaternal, Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Agustinus Giri Respati, Sp.OG-KFM.

Komplikasi kehamilan risiko tinggi lainnya adalah keguguran, partus macet, perdarahan antepartum, kematian janin dalam kandungan (Intra Uterine Fetal Death), eklampsia, bayi lahir belum cukup bulan (premature) dan bayi berat lahir rendah.

Baca juga : Biasakan Olahraga Ringan di Rumah, Bisa Kurangi Risiko Penyakit Jantung

Kurangnya pengetahuan mengenai tanda bahaya kehamilan sering terjadi karena kurangnya kunjungan ante natal care (ANC). Kurangnya kunjungan ANC dapat menyebabkan bahaya bagi ibu maupun janin seperti terjadinya perdarahan serta masa kehamilan karena tidak terdeteksinya tanda bahaya.

”Berbagai penelitian terkait ANC menyatakan bahwa keberhasilan ANC lebih berarti dapat menyelamatkan nyawa atu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Melalui ANC, kesempatan untuk menyampaikan edukasi dan promosi kesehatan pada ibu hamil khususnya bisa dilakukan lebih baik. Fungsi suportif dan komunikatif dari ANC tidak hanya mampu menurunkan AKI, tapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup bagi ibu dan bayi yang akan dilahirkan,” kata Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Konsultan Fetomaternal, Mayapada Hospital Surabaya dr. Maurin Susanna, Sp.OG – KFM.

USG Jadi Skrinning Awal
Pemeriksaan ibu dan bayi bisa dilakukan berkala dengan melakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan USG di awal kehamilan penting untuk menentukan usia kehamilan dan mengetahui kondisi awal janin. Lalu, pemeriksaan USG penting juga dilakukan di trimester kedua terutama untuk mengevaluasi kemungkinan kelainan anatomi pada janin.

Pemeriksaan di trimester ketiga dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan janin dan posisi janin tersebut beserta plasenta atau ari-ari di dalam rahim untuk merencakan persiapan persalinan.

“Pemeriksaan USG skrining anatomi janin lengkap paling optimal dilakukan pada usia kehamilan 26-28 minggu. Beberapa negara juga menambahkan pemeriksaan kelainan anatomi rutin pada usia hamil 11-14 minggu untuk mengevaluasi kemungkinan kelainan kromosom, contohnya sindroma Down atau trisomi 21,” kata Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Konsultan Fetomaternal, Mayapada Hospital Tangerang, dr. Sandhy Prayudhana, Sp.OG-KFM.

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Konsultan Fetomaternal, Mayapada Hospital Surabaya dr. Manggala Pasca Wardhana, Sp.OG – KFM, mengatakan jika terdeteksi adanya kehamilan dengan risiko tinggi seperti down syndrome atau kelainan kromosom lainnya, maka dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan Chorionic Villous Sampling (CVS) di trimester pertama saat minggu ke-10 dan ke-12, atau dapat dilakukan pemeriksaan amniosentesis dengan mengambil sampel cairan ketuban pada trimester kedua dengan tujuan untuk menemukan kelainan genetik kromosomal yang terjadi pada janin.

Beberapa pemeriksaan terbaru yang dapat dilakukan untuk melihat kemungkinan janin memiliki kelainan kromosom juga dapat dilakukan secara invasive melalui pemeriksaan Non Invasive Prenatal Testing/Diagnostic (NIPT/NIPD) yang mengevaluasi DNA janin menggunakan sampel darah ibu. Pemeriksaan ini penting dilakukan jika didapatkan kecurigaan kelainan pada janin untuk memperkirakan prognosis luaran janin serta menentukan rencana penatalaksaan yang tepat bagi janin yang akan dilahirkan.

Obstetrics & Gynecology Center Mayapada Hospital didukung dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan dan subspesialisasi serta ditunjang dengan layanan komprehensif untuk kesehatan wanita segala usia. Layanan itu dimulai dari kesehatan organ reproduksi wanita, pemantauan kehamilan hingga persalinan, penanganan kehamilan risiko tinggi, keluarga berencana, pilihan tindakan bedah untuk kasus ginekologi hingga persiapan dan perawatan menopause. (*)

Reporter : JPGroup

Update