Jumat, 19 Juli 2024

Ortu Terlalu Melibatkan Diri, Buat Anak Sulit Mengambil Keputusan

Berita Terkait

Ortu yang overparenting selalu ingin memastikan kenyamanan anak, tetapi membuat anak cenderung sulit mandiri. (Foto ilustrasi diperagakan model-Dite Surendra/Jawa Pos)

batamposOrtu terlalu melibatkan diri ketika anak sudah memasuki usia mandiri, ini akan membuat anak sulit mengambil keputusan. Pola asuh yang berlebihan atau overparenting akan membuat anak bergantung pada orang lain. Padahal semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun, bisa berujung tidak baik jika ortu terlalu melibatkan diri ketika anak sudah memasuki usia mandiri.

BEBERAPA waktu lalu muncul cuitan di Twitter soal adanya WhatsApp group para orang tua atau wali murid jenjang SMA, bahkan mahasiswa. Perlukah ortu terlalu melibatkan diri dalam kehidupan anak yang sudah memasuki usia mandiri? Lahir dari kemudahan teknologi, fenomena dalam parenting masa kini tersebut bisa jadi termasuk indikasi overparenting.

”Dalam membesarkan anak, tentu ortu wajib terlibat, tapi bukan yang terlalu terlibat bahkan sampai hal-hal terkecil. Apalagi jika anak sudah seharusnya bisa mandiri,” ujar Dhian Kusumastuti SPsi MPsi Psikolog.

Baca juga:Dirilis dalam Bentuk Fisik, Album J-Hope BTS “Jack In The Box” Kembali Masuk 10 Besar Billboard 200

Dhian menuturkan, ortu berlaku demikian atas dorongan sendiri untuk mengatasi ketidaknyamanan yang dirasa

kan. Mereka tidak nyaman dengan perasaan kecewa, sedih, hingga kegagalan. Alhasil, tidak ingin sang anak merasakan yang sama. Padahal, sangat penting belajar merasakan emosi-emosi tak mengenakkan itu.

”Biasanya, ortu seperti itu mudah stres, takut sendirian. Mereka juga tidak tega menerapkan kedisiplinan ke anak sehingga berkembanglah pola asuh yang berlebihan,” ungkap psikolog klinis di Unit Pelayanan Psikologi Universitas Airlangga itu.

Akibatnya, anak tidak berusaha mengembangkan value-nya. Sebab, semua sudah diatur ortu. Jika dibiasakan, sampai dewasa anak akan terus bergantung pada orang lain. ”Pada anak usia dini atau SD misalnya, lihat anaknya kesusahan mengerjakan PR, lantas PR-nya dikerjakan ortu,” ujarnya memberi contoh.

Pada contoh lain, untuk anak jenjang SMP dan SMA, ketika ada kegiatan pentas seni, orang tua yang heboh membahas di WhatsApp group, terlalu khawatir memastikan persiapan anak agar penampilannya maksimal.

Ortu yang overparenting juga selalu ingin anaknya menang dalam setiap kompetisi. Mereka tidak akan membiarkan anaknya merasakan kegagalan. Akhirnya, coping stres dan coping skill-nya buruk.

”Ketika dikecewakan atau nilainya jelek, anak kesulitan meregulasi emosi yang dirasakan karena tidak dibiasakan merasakan perasaan sedih dan kecewa,” imbuh psikolog yang juga praktik di Biro Psikologi Lestari itu.

Anak-anak dengan ortu yang overparenting, lanjut dia, akan menilai dirinya tidak mampu melakukan sesuatu. Efikasi atau keyakinan dirinya menurun. Begitu pula kepercayaan diri anak. ”Mereka nggak pede untuk mengambil keputusan, menganggap dirinya nggak mampu ngapa-ngapain, bahkan sesimpel memutuskan mau makan di mana,” tambah Dhian.

Karena sudah terbiasa sejak kecil diperlakukan demikian, terkadang anak tidak sadar jika ortunya overparenting. Biasanya, anak baru merasakan ketidaknyamanan ketika relasi sosialnya mulai luas. ”Pas sudah SMP atau SMA melihat teman-temannya punya kebebasan lebih dari mereka, di situ mulai tumbuh gejolak untuk punya kebebasan lebih,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu, anak boleh untuk mengutarakan perasaan dan keinginannya. Meski, sulit bagi ortu yang overparenting membiarkan anaknya punya pendapat dan mengambil keputusan. ”Ortu harus sadar jika tidak bisa selamanya mendampingi anak. Mereka akan tumbuh mandiri. Karena itu, ajarkan mereka proses, lifeskill, bukan memberinya hasil,” tegas Dhian.

APAKAH TERMASUK ORTU YANG OVERPARENTING?

  • Berusaha menunjukkan power yang berlebih
  • Micromanage, mengatur hal-hal kecil dalam kehidupan anak dan pengambilan keputusan
  • Mengerjakan tugas atau kewajiban anak
  • Ingin anak selalu mendapat award dalam setiap kompetisi. Tidak membiarkan anak gagal
  • Mengatur cara orang lain memperlakukan anak
  • Membela anak habis-habisan meski anak melakukan kesalahan

Efek Overparenting bagi Anak

Efekfikasi (keyakinan) diri dan kepercayaan diri menurun

  • Coping stres dan coping skill yang maladaptif. Tidak bisa mengelola emosi dengan baik
  • Terlalu bergantung pada orang lain
  • Kesulitan mengambil keputusan sendiri
  • Tidak memiliki pendapat pribadi

Sumber: Dhian Kusumastuti SPsi MPsi Psikolog

Update