Minggu, 7 Agustus 2022

Memahami dan Memilih Jenis Reksa Dana Sesuai Kebutuhan 

Berita Terkait

ILUSTRASI: Reksa dana.

batampos – Memasuki semester kedua tahun 2022, kondisi perekonomian dinilai masih perlu diwaspadai investor di segala sektor untuk bijak dalam berinvestasi. Tak terkecuali bicara soal instrumen reksa dana. Ada strategi yang perlu diperhatikan agar bisa mendapatkan hasil yang optimal.

Berdasar data Bareksa, sepanjang semester I 2022, kinerja berbagai jenis reksa dana mengalami perlambatan. Untuk diketahui, reksa dana terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya, saham, pasar uang, campuran, dan pendapatan tetap.

Reksa dana pasar uang adalah jenis yang melakukan investasi pada instrumen investasi pasar uang dengan masa jatuh tempo kurang dari satu tahun. Bentuknya bisa berupa time deposit (deposito berjangka), certificate of deposit (sertifikat deposito), sertifikat Bank Indonesia (SBI), surat berharga pasar uang (SBPU), dan berbagai jenis instrumen investasi pasar uang lainnya. Risikonya relatif paling rendah dibandingkan reksa dana jenis lainnya.

Selanjutnya, pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek utang atau obligasi. Tujuannya, menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Risikonya relatif lebih besar daripada pasar uang.

Ada juga yang disebut reksa dana campuran. Yakni, mengalokasikan dana investasi dalam portofolio yang bervariasi. Instrumennya dapat berbentuk saham dan dikombinasikan dengan obligasi. Tujuannya, pertumbuhan harga dan pendapatan. Risiko reksa dana campuran bersifat moderat dengan potensi tingkat pengembalian yang relatif lebih tinggi dibandingkan pendapatan tetap.

Terakhir, reksa dana saham yang merupakan jenis yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen dari aktivanya dalam bentuk efek bersifat ekuitas. Tujuannya, pertumbuhan harga saham atau unit dalam jangka panjang. Risikonya relatif lebih tinggi daripada pasar uang dan pendapatan tetap. Namun, memiliki potensi tingkat pengembalian yang paling tinggi.

Mengamati kondisi global terkini, investor perlu mengetahui bahwa adanya risiko hiperinflasi atau kenaikan harga barang-barang yang tidak terkendali. Akibatnya, bank sentral di dunia pun perlu menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi kondisi itu.

COO Bareksa Ni Putu Kurniasari menjelaskan, pelaku pasar saat ini mengkhawatirkan resesi global. Meski, dampaknya ke investasi di Indonesia tidak terlalu besar. ”Ekonomi Indonesia masih aman. Meski sempat kita merasakan kenaikan harga minyak goreng, sekarang mulai stabil karena supply dijaga baik,” ujarnya.

Lantas, seperti apa kondisi produk investasi Indonesia? Dengan suku bunga acuan The Fed (bank sentral Amerika Serikat) yang naik, beberapa aset, seperti obligasi negara dan saham-saham di negara berkembang, bisa terkena dampaknya. Karena itu, yield (imbal hasil) obligasi negara Indonesia juga ikut naik, yang mengindikasikan harganya turun.

”Maka, untuk short term condition 1–2 bulan ke depan, saya prefer investasi yang low-risk, tidak bergantung fluktuasi ini. Misalnya, produk reksa dana yang berbasis deposito atau obligasi korporasi,” tuturnya.

BACA JUGA: Usai Akuisisi Sule Channel, Rudy Salim Berinvestasi di Aset Digital Corbuzier

Head of Wholesale Distribution Syailendra Capital Aldies Sageri berpendapat, dengan kondisi saat ini, reksa dana pendapatan memang menjadi pilihan tepat untuk mendapat keuntungan.

”Investor yang memiliki tujuan keuangan jangka menengah dan profil risiko moderat bisa mempertimbangkan untuk memilih reksa dana pendapatan tetap ini,” ujarnya.

Co-Founder Ternak Uang Felicia Putri Tjiasaka menegaskan bahwa jenis reksa dana yang dipilih memang harus sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, kebutuhan dalam jangka waktu sekitar setahun lagi, menaruh dana di reksa dana pasar uang. Bila jangka waktu di bawah 5 tahun, taruh dana investasi di reksa dana pendapatan tetap.Bila jangka waktunya masih panjang, di atas lima tahun, smart investor bisa menaruh investasi di reksa dana saham.

”Yang terpenting adalah melakukan investasi secara konsisten. Rutin dan disiplin untuk terus menambah modal investasi ” ujar Felicia. (*) 

Reporter: JP Group

Update