Kamis, 18 Agustus 2022

Ingin Budidaya Anggrek, Jangan Pilih yang Cabutan

Berita Terkait

TUMBUH SEHAT: Anggrek spesies Indonesia Dendrobium macrophyllum var Jawa. (DIPTA WAHYU/JAWA POS)

batampos.co.id – Keluarga anggrek atau Orchidaceae punya sebaran yang luas di tanah air. Ada yang sudah dibudidayakan. Namun, jumlah anggrek liar –yang biasa diperjualbelikan sebagai cabutan– juga tak kalah melimpah.

Pekebun anggrek Anton Tri Raharjo menuturkan, jika ingin mengoleksi, tanaman yang dipilih sebaiknya bukan cabutan. Sebab, peluang bertahan hidup anggrek cabutan relatif rendah.

”Apalagi, kalau cabutannya dari tempat beda. Contoh, anggrek dari hutan pegunungan dibawa ke dataran rendah. Tumbuhnya bakal kurang bagus,” tegasnya. Terutama jika tanaman cabutan masih kecil dan diboyong tanpa media tanam aslinya.

Pemilik penangkaran dan budi daya anggrek Balelawang itu menilai, kesulitan beradaptasi memang tak membuat tanaman anggrek langsung mati. Namun, penampilannya kurang prima. Misalnya, bagian batang berkerut dan daun tak mengilap.

Selain sulit beradaptasi, tanaman cabutan berisiko membawa hama dari tempat asalnya. ”Kadang penyakit yang dibawa ini nggak familier atau nggak ada di tempat kita dan bisa menulari lainnya,” ungkap Anton.

CEK RUTIN: Anton Tri Raharjo memantau tiap anggrek rawatannya apakah ada yang terkena ham. (DIPTA WAHYU/JAWA POS)

Berdasar pengalamannya, anggrek yang diambil dari alam sering kali tak melalui pengecekan yang baik. Setelah datang, anggrek jarang dikarantina. Ia malah kadang dicampur dengan tanaman lain.

Sama dengan tanaman hias lainnya, anggrek punya beberapa hama langganan. Ada yang memang spesifik menyerang anggrek. Namun, ada juga yang datang karena tanaman di sekitarnya. ”Seperti cabuk (mealybugs), kadang datang kebawa angin, lalu menempel ke anggrek. Atau semut. Sebab, di lingkungan sekitarnya memang banyak semut,” jelas Anton.

Dia menyatakan, memiliki jenis langka, biasanya dari hutan, adalah prestise bagi sebagian penyuka anggrek. Namun, Anton menuturkan bahwa pemilik harus cermat. Ketika dibeli, anggrek sebaiknya datang dengan media aslinya. Misalnya, dahan yang ditempeli ikut dibawa. Ukurannya pun sebaiknya tak terlampau kecil. Dengan begitu, daya tahannya lebih baik.

Anton menjelaskan, buat pemula, sebaiknya anggrek cabutan (terutama yang belum didomestikasi) dan hybrid dihindari. Pria yang bermukim di Umbulharjo, Sleman, itu menilai bahwa anggrek hibrida dikembangkan di lingkungan tumbuh yang dikontrol. ”Daya survive-nya kurang baik. Beberapa jenis juga didesain untuk berbunga 2–3 kali, lalu tumbuhnya kurang bagus,” paparnya. (*)

Reporter : Jpgroup

Update