Rabu, 10 Agustus 2022

Ingin Berkebun, Awali dari yang Disukai

Berita Terkait

Kunci Tampil Cantik Ada di 3 Jenis Makeup ini

Glossy dan Tahan Lama

Tawaran Gaji Rp 1,1 M untuk Pencicip Permen

TANAMAN PRODUKSI: Heningtias Gahas Rukmana membawa hasil panen ke kebunnya. Salah satu kunci kebersihaslannya adalah rajin disiram dan tanpa bahan kimia. (DIPTA WAHYU/JAWA POS)

batampos – Memiliki kebun mungil dengan aneka tanaman produktif menjadi impian banyak orang. Pegiat kebun organik di Bantul Heningtias Gahas Rukmana membagikan tipsnya. Tias, begitu panggilan akrab perempuan berkerudung ini sukses membuat kebun organik di rumahnya dengan pupuk kompos. Padahal awalnya tanah di rumahnya terdiri dari batu padas sehingga mustahil untuk berkebun.

Berkat ketekunannya, aneka tanaman sayur, buah hingga empon-empon tumbuh subur.

Tias membagikan kiatnya untuk berkebun :

1. Awali dari yang disukai

Suka sambal? Tanam saja cabai, tomat, atau terong. Pilih tanaman –baik sayur maupun buah– yang disukai agar lebih semangat saat merawat tanaman.

2. Pilih tanaman lokal

Tidak perlu membeli benih tanaman impor. Cukup dari sisa biji buah atau sayur yang biasa dikonsumsi. Sebab, tanaman lokal lebih bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Selain itu, langkah ini bisa melestarikan tanaman lokal.

(DIPTA WAHYU/JAWA POS)

3. Jangan lalai saat menyemai

Sering kali, orang asal meletakkan biji dengan anggapan akan tumbuh sendiri. Padahal, biji bakal bersemai dan tumbuh cepat jika mendapat perawatan setara seperti tanaman dewasa.

4. Manfaatkan sampah dapur untuk tanaman

Tias menilai, semua sampah dapur, kecuali plastik, bisa diolah. Plus, sampah daun kering di halaman. Semuanya bisa diolah menjadi kompos. Sampah dapur juga bisa difermentasikan menjadi pupuk organik cair dengan bantuan ecoenzyme.

Baca juga : Samarkan Bau Kompos dengan Tanam Pepaya Jantan

5. Upayakan tanam beragam tanaman
Tumpang sari atau multiple cropping juga bisa diterapkan di kebun. Sisi positifnya, tanaman saling ’’bantu”. Misalnya, tanaman dengan aroma khas bisa menghalau jenis serangga atau hama tanaman lainnya.

6. Ganti tanaman dengan yang baru
Bila tanaman dinilai terlalu besar atau kurang menghasilkan, jangan ragu ganti tanaman. Misalnya, kelor di rumah Tias adalah ’’cucu” tanaman yang dibawanya dari Madura. Tanaman sekali panen bisa digantikan semaian lain. (*)

Reporter : Jpgroup

Update