Kamis, 1 Desember 2022

Downfall, Film Dokumenter di Balik Jatuhnya Pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines

Berita Terkait

CEO Boeing, Dennis Muilenburg saat hadir dalam dengar pendapat dengan anggota kongres AS dan keluarga korban. (Netflix)

batampos – Ada pepatah lama dalam dunia penerbangan. If it ain’t Boeing, I ain’t going. Artinya, jika tidak naik Boeing, aku tidak akan pergi. Perusahaan pembuat pesawat dari AS itu begitu sukses dengan produknya yang dikenal aman dan andal. Hingga terjadi dua kecelakaan yang menguak kebohongan besar dan keserakahan.

Hampir empat tahun berselang setelah kecelakaan Lion Air JT610 pada 29 Oktober 2018, Netflix merilis film dokumenter baru berjudul Downfall: The Case Against Boeing. Film tersebut mengungkapkan bagaimana kecelakaan yang menewaskan 189 orang itu terjadi.

Berdurasi sekitar satu setengah jam Downfall menghadirkan kesaksian dan pendapat dari banyak pihak. Mulai jurnalis, keluarga korban, ahli penerbangan, pilot, mantan karyawan, hingga anggota kongres yang mendakwa Boeing telah menjadi penyebab dua kecelakaan fatal dari pesawat komersial mereka 737 Max.

BACA JUGA: Usai Akuisisi Sule Channel, Rudy Salim Berinvestasi di Aset Digital Corbuzier

Boeing dikenal sebagai perusahaan dengan reputasi yang sangat baik. Itulah mengapa ketika Lion Air JT610 jatuh 13 menit pascalepas landas dari Jakarta menuju Pangkal Pinang, tidak ada satu pun yang menyalahkannya. Sebelum kotak hitam pesawat itu ditemukan, dunia berspekulasi bahwa Lion Air dan Indonesia yang salah karena kurang memperhatikan keselamatan penerbangan.

Muncul juga anggapan bahwa pilot Bhavye Suneja dinilai kurang ahli dalam menerbangkan pesawat. “Setidaknya di Amerika Serikat, mereka paham cara mengoperasikannya,” kata mantan Kepala National Transportation Safety Board Mark Rosenker dalam wawancara dengan CBSN New York yang dikutip dalam film tersebut.

Namun, anggapan itu dibantah Garima Sethi, istri Suneja. Perempuan warga India tersebut menyatakan bahwa suaminya adalah tipikal pilot yang sangat mengutamakan keselamatan penumpangnya. “Apalagi, dia mengambil pelatihan pilotnya di Amerika,” cerita Sethi.

Kecurigaan kepada Boeing baru muncul setelah lima bulan kemudian terjadi kecelakaan serupa. Pada 10 Maret 2019, pesawat Ethiopian Airlines Flight 302 jatuh. Jumlah korbannya 157 orang. Jenis pesawat yang digunakan sama. Dan ketika kotak hitam pesawat ditemukan, diketahui jika penyebab dua kecelakaan itu sama.

Boeing kemudian merilis pernyataan bahwa pesawat tersebut mengalami masalah aktivasi MCAS atau sistem aktivasi karakteristik manuver. Apa itu MCAS? Boeing rupanya belum memperkenalkan istilah dan cara kerja sistem itu kepada para maskapai pembeli pesawatnya. Pun kepada para pilot yang menggunakan pesawat itu.

Dari hearing dan pemeriksaan dokumen yang dilakukan anggota kongres dengan Boeing, didapat temuan bahwa Boeing secara aktif menyembunyikan fakta penambahan sistem MCAS pada 737 Max dengan tujuan untuk menghindari rumit dan lamanya persetujuan dari FAA dan pelatihan ulang para pilot yang memakan biaya. Dua hal itu memang harus dihadapi Boeing jika mereka dengan jujur mengatakan adanya sistem baru bernama MCAS dalam pesawat itu.

Setelah kecelakaan Lion Air, Boeing tetap bersikukuh produk mereka aman. Kesalahan terletak pada pengguna, termasuk pilotnya. Rangkaian kampanye public relation yang masif mereka lakukan untuk menjaga kredibilitas. FAA pun tetap mengizinkan penerbangan domestik dengan 737 terbang di AS.

Hingga kecelakaan Ethiopian Airlines terjadi dan Tiongkok menjadi negara pertama yang memutuskan melarang maskapai negaranya menerbangkan 737 Max. Disusul sejumlah negara lain. Kongres pun memutuskan menggelar dengar pendapat. “Kita tidak seharusnya mengharapkan pilot menebus produk yang cacat,” kata ahli penerbangan Chesley ’’Sully” Sullenberger.

Downfall juga mengungkap dengan detail bagaimana warisan Boeing sebagai pemimpin industri pesawat yang menjaga betul kualitas produknya dihancurkan secara sistematis setelah merger dengan McDonnell-Douglas pada 1997.

Keamanan produk dikalahkan dengan keinginan untuk mendapatkan profit sebesar-besarnya sehingga harga saham mereka melesat naik. Berbagai jalan pintas diambil dengan tujuan untuk mendapatkan harga produksi yang lebih murah. Mereka yang melaporkan adanya kejanggalan yang diabaikan, dokumentasi tentang masalah produk juga ditolak. Kultur ”menyembunyikan masalah” menjadi norma dan pendapatan Boeing terus naik, sementara mereka mengabaikan keluarga korban.

Film tersebut disutradarai Rory Kennedy. Nama Kennedy sudah dikenal sebagai pembuat dokumenter hebat. Dia pernah meraih Piala Oscar kategori Film Dokumenter pada 2015 untuk film Last Days in Vietnam. Dia mengaku terpukul dengan dua tragedi tersebut. “Sulit untuk diproses, untuk dipahami. Segera menjadi jelas bahwa cerita yang lebih besar menghubungkan keduanya. Sebanyak 346 nyawa telah hilang–bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi?’’ katanya sebagaimana dilansir Rolling Stone.

Bukan hal mudah bagi Kennedy untuk menghadirkan para keluarga korban. Mereka tidak percaya dengan media karena tuduhan yang menyakitkan seperti menuntut ganti rugi material. Selain itu, menceritakan tragedi itu juga seperti membuka luka lama bagi mereka.

“Aku ingin mereka bisa mempercayai proses ini bersamaku dan bahwa aku akan terus menghormati mereka, dan pengalaman serta perspektif mereka, dan aku pikir pada akhirnya membuat film yang benar-benar berfokus pada fakta dan meminta pertanggungjawaban Boeing,” kata Kennedy sebagaimana dilansir The Hollywood Reporter.

Film itu juga menyajikan visualisasi dengan baik. Mulai sudut pandang pilot saat pesawat itu jatuh hingga grafis penjelasan kerusakan pesawat yang mudah dipahami. “Kami tidak mencoba untuk berpura-pura bahwa inilah yang mereka alami, tapi ini membantu Anda memahami secara teknis apa yang mereka alami dan kemudian, pada tingkat tertentu, secara emosional,” kata Kennedy.

Meski banyak istilah teknis yang disampaikan para ahli, Kennedy bisa mengemasnya dengan runutan yang baik sehingga orang awam pun akan dengan mudah paham. Downfall bisa jadi pilihan tontonan yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mampu mengaduk emosi. Kecuali bila Anda punya rencana terbang dalam waktu dekat.

TRIVIA

– Dokumenter tentang Boeing 737 MAX juga ditampilkan dalam episode bertajuk Boeing’s Fatal Flaw di serial Frontline yang tayang di stasiun TV PBS.

– Rory Kennedy mendapat bantuan dari Peter DeFazio, ketua kongres dari Komite Infrastruktur Transportasi, yang memberinya akses total terhadap investigasi yang mereka lakukan terkait insiden itu.

– Hal yang menurut Kennedy paling mengejutkan setelah membuat film itu adalah fakta bahwa menurut FAA kecelakaan fatal jenis pesawat itu akan terjadi dua tahun sekali.

– Dua bulan setelah dengar pendapat dengan kongres berjalan, CEO Boeing Dennis Muilenburg diberhentikan. Dia diberi saham dan uang pensiun USD 62 juta.

– Pada 2020, Kementerian Kehakiman AS menghukum Boeing dengan tuduhan konspirasi kejahatan untuk menipu FAA. Perusahaan itu setuju membayar denda dan kompensasi USD 2,5 miliar sehingga terhindar dari tuntutan.

– Tahun itu juga, 20 bulan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pelarangan terbang, 737 MAX diperbolehkan lagi terbang.

– Film yang dirilis 18 Februari lalu itu mendapat rating 7,5 di IMDb dan 90% di Rotten Tomatoes. (adn/c12/ayi)

Reporter : JP GROUP

Update