Rabu, 6 Mei 2026

Bukan Sekadar Unik, Lomba Tidur di Korea Selatan Angkat Isu Serius

Berita Terkait

Peserta mengikuti lomba tidur siang “Power Nap Contest” di Seoul dengan mengenakan kostum unik, sebagai kampanye kesadaran krisis kurang tidur. Sumber: x.com/PhilippineStar.

batampos – Pemerintah Kota Seoul kembali menggelar ajang unik bertajuk “Power Nap Contest” atau lomba tidur siang di kawasan taman tepi Sungai Han, Sabtu (2/5).

Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan kampanye publik untuk menyoroti krisis kurang tidur yang semakin mengkhawatirkan di Korea Selatan.

Ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pekerja kantoran, berkumpul di ruang terbuka untuk melakukan aktivitas yang jarang mereka dapatkan, yakni tidur dengan nyaman.

Para peserta tampil dengan kostum unik bertema tidur sebelum berbaring di atas matras dan bean bag yang telah disiapkan panitia.

Lomba ini memiliki aturan tak biasa. Peserta diwajibkan datang dalam kondisi lelah dan sudah makan agar lebih mudah tertidur.

Penilaian dilakukan menggunakan metode ilmiah, yakni pemantauan detak jantung untuk mengukur tingkat relaksasi dan kualitas tidur. Semakin stabil detak jantung, semakin besar peluang untuk menang.

Panitia juga memberikan gangguan ringan seperti suara atau sentuhan lembut guna menguji konsentrasi tidur peserta di tengah distraksi.

Pemenang lomba tahun ini adalah seorang pria berusia 80-an tahun yang berhasil mengalahkan peserta lain, yang sebagian besar merupakan pekerja muda dengan tingkat kelelahan tinggi.

Data menunjukkan Korea Selatan termasuk negara dengan tingkat kurang tidur tertinggi di antara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development.

Budaya kerja panjang, tekanan akademik, serta gaya hidup urban yang serba cepat membuat banyak warga hanya tidur 3–4 jam per malam dan bergantung pada kafein.

Seorang mahasiswa peserta lomba mengaku hanya memiliki waktu tidur terbatas karena harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan paruh waktu.

Sementara pekerja kantoran menyebut lembur dan perjalanan kerja yang panjang sebagai penyebab utama kelelahan mereka.

Melalui ajang ini, pemerintah kota ingin mengubah persepsi bahwa tidur bukanlah tanda kemalasan, melainkan kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol perlawanan terhadap budaya kerja tanpa henti yang telah lama melekat di masyarakat Korea Selatan. (*)

SourceReuters

Update