
batampos – Industri fashion global mulai memasuki fase baru setelah tren aksesori viral Labubu yang mendominasi sepanjang 2025 perlahan mereda.
Sejumlah brand dan inovator kini berlomba mencari “Labubu berikutnya”, namun hingga saat ini belum ada produk yang benar-benar mampu menyaingi popularitasnya.
Labubu dikenal sebagai boneka karakter berbulu dengan desain unik, perpaduan antara lucu dan sedikit menyeramkan, yang kerap dijadikan gantungan tas, termasuk pada tas-tas mewah berbagai merek global.
Popularitasnya semakin melejit setelah digunakan oleh sejumlah selebritas dunia seperti Rihanna hingga Lisa BLACKPINK.
Fenomena ini menjadikan Labubu bukan sekadar aksesori, melainkan simbol gaya dan ekspresi diri dalam fashion modern.
Salah satu kandidat pengganti datang dari Jepang melalui produk bernama Mirumi. Aksesori ini berbentuk robot kecil yang mampu merespons suara dan sentuhan, sehingga berfungsi sebagai teman interaktif yang menempel di tas pengguna.
Namun, harga Mirumi yang jauh lebih mahal dibanding Labubu menjadi tantangan dalam menjangkau pasar massal.
Di sisi lain, industri kecantikan juga mulai masuk ke tren aksesori dengan menghadirkan produk multifungsi. Sejumlah brand merilis lipstik, serum, hingga produk kecantikan lain dalam bentuk gantungan tas.
Pendekatan ini menggabungkan fungsi dan estetika, sekaligus mencoba meniru daya tarik koleksi yang sebelumnya tidak dimiliki Labubu.
Tren lain yang turut berkembang adalah aksesori personalisasi, seperti huruf, simbol, atau pesan yang bisa dipasang pada tas. Produk dari Bottega Veneta dan Anya Hindmarch menunjukkan bahwa konsumen kini tidak hanya mencari barang lucu, tetapi juga sesuatu yang merepresentasikan identitas pribadi.
Fenomena Labubu dinilai telah mengubah cara pandang industri fashion terhadap aksesori kecil. Benda sederhana kini bisa menjadi pernyataan gaya yang kuat dan bernilai tinggi di pasar global. (*)
