Jumat, 2 Desember 2022

Ahli Sarankan Tetap Hati-Hati Saat Bukber, Omicron Masih Ada

Berita Terkait

Ini Tips Menghindari Lowongan Kerja Palsu

Tips Liburan Akhir Tahun

Kalangan ahli menyarankan jika pun bukber dilakukan, tetap harus penuh kehati-hatian. Apalagi saat ini varian Omicron belum selesai, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan adanya varian baru rekombinan bernama XE. (dok JawaPos.com)

batampos – Kasus Covid sudah mulai turun, namun kalangan ahli menyarankan jika pun bukber dilakukan, tetap harus penuh kehati-hatian. Tetap jaga jarak dan memakai masker. Saat ini varian Omicron belum selesai, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan adanya varian baru rekombinan bernama XE. Varian itu ditemukan di Inggris yang merupakan gabungan dari subvarian Omicron BA.1 dan BA.2.

Kasus Covid-19 di Indonesia sudah memiliki positivity rate atau peluang tertularnya di bawah 5 persen. Kasus aktif masih tersisa 95 ribu orang di rumah sakit dan masih ada 47 jiwa meninggal sehari pada Senin (4/4). Acara buka Puasa bersama atau bukber menjadi momen kebersamaan dan berkumpul.

Ahli Spesialis Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Ari Fahrial Syam mengatakan, di tengah pembatasan Covid-19 yang mulai dilonggarkan, ia tetap meminta masyarakat untuk berhati-hati. Bagaimana caranya? Yakni dengan tetap memakai masker dan menjaga jarak, serta mengejar vaksinasi 2 dosis dan booster jika belum divaksin.

Baca juga: Mengidap Salah Satu Dari 11 Penyakit ini? Dianjurkan Tidak Puasa

Salah satu pelonggaran seperti syarat mudik harus dengan vaksinasi dan booster hingga salat tanpa jarak. Sementara untuk bukber, Prof Ari menilai sebaiknya dilakukan dengan kehati-hatian.

“Prinsipnya menurut saya, tak bisa berlaku umum. Tetap jangan buka masker meski kita menuju endemi, virus Covid-19 masih ada di sekitar kita, jangan lengah. Outbreak baru bisa saja. Ketika dengar tetangga sebelah positif, bisa saja kita harus waspada,” tegas Prof Ari kepada wartawan baru-baru ini.

Untuk buka puasa bersama, kata dia, sebaiknya dilakukan di rumah saja. Apalagi situasi saat ini di tengah angka kasus yang masih ada di masyarakat, menurutnya belum tepat dilakukan.

“Terus terang saja, semua tergantung dari jumlah kasus, saat ini waktunya belum tepat (bukber) kita lakukan penyesuaian, ketika merasa lebih sehat, tetap harus ada kehati-hatian. Kasus kita ini masih ada di tengah kita. Tujuan puasa ini kan untuk ibadah. Buka puasa bersama kan sifatnya sosial, sebaiknya berdoa sendiri. Buka puasa memang sosial silaturahmi, tapi untuk saat ini, sabar dulu lah,” katanya.(*)

Reporter: Jpgroup

Update