Minggu, 26 Mei 2024

Pesan Dokter: Anak Umur di Bawah 4 Tahun Jantgan Konsumsi Gula

Berita Terkait

batampos- Guru Besar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, FAAP, FRCPI melarang anak usia di bawah 4 tahun untuk diberi konsumsi gula.

“Kalau saya mengatakan anak di bawah 4 tahun gula tidak boleh sama sekali (diberikan),” kata Aman pada konferensi pers “Cegah Diabetes Prematur pada Anak dan Remaja” di Jakarta Pusat, Selasa.

Larangan ini dikatakannya khusus bagi anak dengan kondisi tubuh normal dan yang kelebihan berat badan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi anak kekurangan bobot tubuh.

Kebiasaan konsumsi gula sejak dini, menurut Dokter Spesialis Anak itu dapat menyebabkan diabetes pada anak yang mampu terbawa hingga dewasa.

Guru Besar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran Bidang Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, FAAP, FRCPI memberikan paparan pada wartawan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/3). (ANTARA/Pamela Sakina)

“Karena memang mereka belum sempurna metabolisme tubuhnya,” tambah dia.

Berbeda dengan lemak, Amin mengatakan kandungan lemak tetap boleh diberikan pada anak, dengan catatan tidak melebihi jumlah kalori yang dianjurkan.

“Gula memang harus diperhatikan, lemak itu boleh saja tapi tetap dalam koridor jumlah kalori yang dibutuhkan,” ujarnya.

Adapun anak usia 2-3 tahun membutuhkan 1.125 kilo kalori per hari, sedangkan usia 4-6 tahun membutuhkan 1.600 kilo kalori per hari.

Ia pun menambahkan Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang sifatnya kronis dan potensial mengganggu tumbuh kembang anak.

BACA JUGA:MPASI Harus Kaya Lemak, Hindari Garam dan Gula

Terdapat dua jenis diabetes yang paling banyak dijumpai pada anak, yaitu DM tipe-1 dengan jumlah kadar insulin rendah akibat kerusakan sel beta pankreas, dan DM tipe-2 yang disebabkan oleh resistensi insulin, di mana level insulin dalam darah normal.

Diketahui prevalensi kasus diabetes mellitus tipe-1 pada anak meningkat sebanyak 70 kali lipat sejak tahun 2010 hingga 2023.

Pada tahun 2010 prevalensi kasus diabetes mellitus terhadap anak di Indonesia hanya 0,028 per 100 ribu jiwa. Kemudian, pada tahun 2023 prevalensi kasus diabetes mellitus menjadi 2 per 100 ribu jiwa.

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik yang sifatnya kronis dan potensial mengganggu tumbuh kembang anak.

“Anak bisa kena diabetes, masih banyak orang menanggap diabetes itu hanya penyakit keturunan, padahal diabetes bisa menginfeksi siapa pun,” imbuh Aman. (*)

sumber: antara

Update