Minggu, 27 November 2022

Kebaya Dipromnosikan Perkumpulan WNI di Jenewa

Berita Terkait

Sejumlah WNI di Jenewa mempromosikan kebaya dan berbatik pada Hari Batik Nasional di depan Gedung PBB di Jenewa, Minggu (2/10) yang digalang Asosiasi Indonesia Jenewa (ANTARA/HO/AIJ)

batampos – Asosiasi Indonesia Jenewa (AIJ) mengenakan kebaya dan berbatik meski di tengah musim gugur yang dingin, sebagai upaya promosi sekaligus merayakan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2022.

“Meskipun jauh dari Tanah Air, warga Indonesia di Swiss memiliki kecintaan yang mendalam terhadap budaya dan Tanah Air, sehingga ajakan AIJ untuk berkumpul berkebaya dan berbatik disambut hangat dan antusias oleh teman-teman diaspora yang tinggal di Swiss khususnya Jenewa,” kata Koordinator acara dari AIJ, Cessy Karina, melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (4/10).

BACA JUGA: Lestarikan Warisan Budaya, Shahnaz Haque Ajak Perempuan Berkebaya

Ia menjelaskan ajang yang digelar di depan Gedung PBB di Jenewa, Minggu (2/10) itu, juga sebagai upaya mempromosikan kebaya agar diakui sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan tak benda di UNESCO.

Kegiatan itu juga didukung Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa. Hal itu, lanjutnya, terlihat dari banyaknya para diplomat beserta ibu-ibu dari Darma Wanita Persatuan (DWP) yang ikut hadir.

Pada kesempatan itu Devi Iswara dari DWP PTRI mengungkapkan pihaknya sangat mengapresiasi gerakan “Kebaya Goes To UNESCO” oleh para diaspora Indonesia yang berada di Swiss.

“Kebaya adalah identitas wanita Indonesia dan merupakan warisan budaya yang harus kita lestarikan dan kita cintai. Semoga upaya kita semua membuahkan hasil yang baik, yaitu dapat diakuinya Kebaya sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia oleh UNESCO,” katanya.

Tidak hanya dari Jenewa, masyarakat diaspora dari wilayah Swiss lainnya dan warga yang tinggal di perbatasan Swiss seperti Prancis juga ikut meramaikan ajang itu mulai dari foto bersama hingga peragaan busana kebaya secara spontan di bawah monumen kursi patah depan Gedung PBB tersebut.

Vemma Kiss-Borlase, salah satu pengunjung yang hadir menyebutkan “Senang bisa membaur dalam atmosfir positif memperkenalkan kebaya di Hari Batik kita. Bahkan dalam kesempatan acara lokal warga Swiss pun selalu mengapresiasi kebaya atau gaun batik kita katanya elegan. Jadi kita memang harus berbangga punya pakaian khas kita, yang seharusnya dipatenkan UNESCO.”

“Mereka semua menyadari kebaya adalah identitas perempuan Indonesia. Dengan mengenakan kebaya, terpancar keanggunan, kelembutan tetapi tetap tangguh dalam menjalankan tugas,” imbuh Christiana Streiff warga yang tinggal di Zurich yang khusus datang ke Jenewa untuk acara itu.

“Secara pribadi, saya sangat terkesan dengan antusiasme masyarakat Indonesia di Swiss Dan Prancis yang hadir pada peringatan Hari Batik Nasional. Di saat yang sama mereka juga mempromosikan kebaya ke UNESCO. Energi positif seperti ini sangat perlu dan penting untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia,” kata Didik Siswantoyo, WNI yang juga dikenal sebagai ahli bela diri dan Youtuber. (*)

reporter: antara

Update