Minggu, 31 Mei 2026

Sering Begadang? Waspadai Risiko Stroke dan Penyakit Jantung

Berita Terkait

Ilustrasi seorang pria menguap karena kurang tidur (Pixabay)

batampos – Kebiasaan kurang tidur ternyata tidak hanya membuat tubuh mudah lelah, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan neurologis dan penyakit kardiovaskular. Salah satu kondisi yang dikaitkan dengan kurang tidur kronis adalah Transient Ischemic Attack (TIA) atau stroke ringan.

Dokter spesialis neurologi Chandana R Gowda mengingatkan bahwa kurang tidur merupakan faktor risiko kesehatan yang kerap diabaikan banyak orang, terutama kalangan usia produktif. Dikutip Antara dari Times of India, TIA terjadi ketika aliran darah ke sebagian otak terhambat sementara.

Gejala TIA dapat muncul secara mendadak, seperti mati rasa atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, penglihatan kabur, hingga kebingungan yang berlangsung beberapa menit.

Meski gejalanya sering hilang dalam waktu singkat, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Menurut Gowda, TIA merupakan sinyal peringatan yang menunjukkan risiko stroke yang lebih serius di masa mendatang.

“Ketika pola tidur terganggu secara konsisten, tubuh akan mengalami peningkatan hormon stres, fluktuasi tekanan darah, peradangan yang meningkat, serta gangguan metabolisme. Semua faktor ini dapat meningkatkan risiko TIA dan stroke,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kurang tidur kronis juga berkaitan erat dengan hipertensi, obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular yang selama ini dikenal sebagai faktor utama penyebab stroke.

Selain itu, kebiasaan begadang sering memicu pola hidup tidak sehat lainnya. Orang yang kurang tidur cenderung mengonsumsi lebih banyak kafein, kurang beraktivitas fisik, lebih sering mengonsumsi makanan olahan pada malam hari, serta memiliki tingkat stres yang lebih tinggi.

Kombinasi berbagai kebiasaan tersebut dapat memperburuk kesehatan jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang.

Gowda juga menyoroti fenomena yang kini banyak terjadi di kalangan profesional muda, yakni kebiasaan menunda waktu tidur demi hiburan atau aktivitas pribadi setelah bekerja seharian.

“Banyak orang menormalisasi kebiasaan tidur hanya beberapa jam setiap malam karena menonton film, bermain gawai, atau aktivitas lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai revenge bedtime procrastination atau penundaan tidur balas dendam,” katanya.

Untuk mengurangi risiko stroke dan gangguan kardiovaskular, Gowda menyarankan masyarakat menerapkan pola tidur yang lebih sehat.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain menjaga jadwal tidur dan bangun secara teratur, mengurangi paparan layar setidaknya 45 menit sebelum tidur, membatasi konsumsi kafein dan makanan berat pada malam hari, rutin berolahraga, mengelola stres, serta memantau tekanan darah dan kadar kolesterol secara berkala.

Menurutnya, kualitas tidur yang baik merupakan salah satu investasi kesehatan jangka panjang yang sering kali luput dari perhatian masyarakat. (*)

SourceAntara

Update