Rabu, 4 Maret 2026

Sudah Ditonton 5,3 Juta Orang, Ini 6 Pelajaran Hidup dari Film Agak Laen: Menyala Pantiku!

Berita Terkait

Batampos – Film Agak Laen: Menyala Pantiku produksi Imajinari yang disutradarai Muhadkly Acho, menjadi salah film viral dan paling diminati di Indonesia di penghujung tahun ini. Sejak dirilis, film ini sudah ditonton 5,3 juta orang di Indonesia dan Malaysia dalam 11 hari penayangan.

ILUSTRASI tiket Agak Laen: Menyala Pantiku!. F Chahaya Simanjuntak/Batam Pos

Sama seperti Agak Laen pertama yang dirilis 2024 lalu, film yang dibintangi Bene Dion Rajagukguk, Boris Bokir Manullang, Oki Rengga, dan Indra Jegel ini tetap menghadirkan perpaduan komedi ‘agak lain’ alias absurd mereka tapi juga kaya akan nilai moral.

Ada pun nilai moral yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup yang sangat relevan dengan realitas sehari-hari  dari film ini, yakni:

  1. Persahabatan Tumbuh dari Kekacauan

Empat sekawan yang terdiri dari Bene, Oki, Jegel, dan Boris merupakan polisi di wilayah Yamakarta. Bermula dari salah tangkap, mereka menghadapi tugas yang paling berat supaya tidak dipecat. Dalam hal ini, kerap mereka selisih paham. Jegel si asal bunyi dan Bene yang suka memberi pernyataan ‘pedas’ saat lagi marah, membuat empat sekawan ini berantem. Tapi ujung-ujungnya, mereka baikan lagi dan saling mendukung saat salah satu di antara mereka menghadapi ‘badai’ dalam rumah tangga atau personal.

  1. Saat Kalut, Kita Bisa Melukai Seseorang

Koh Acim, yang diperankan Chew Kin Wah menggambarkan sosok yang kalut, karena putrinya menjadi korban pelecehan dari seseorang. Bahkan pelaku itu menawarkan uang supaya koh Acim tutup mulut atas kematian putrinya. Namun, dia menolak dan tetap mau melaporkan si pelaku ke polisi. Dia pun dihadang. Kalut, dan akhirnya bertindak di luar kebiasaan untuk menyelamatkan diri dari pisau tajam.

Dalam hidup, memproses emosi itu penting. Saat menghadapi tekanan besar, sebaiknya jangan panik atau kalut, supaya tidak melukai orang lain.

  1. Support Terbaik Adalah Sahabat yang Tulus

Keempat sekawan ini punya masalah hidup masing-masing. Oki yang istrinya mau melahirkan, Boris yang sedang proses sidang cerai, Jegel yang membiayai ibunya di kampung, Bene yang kesulitan membiayai kuliah adeknya, hingga Linda si pemilik panti asuhan yang mulai kekurangan dana membiaya para penghuni panti. Namun, saat dari mereka masing-masing terbeban oleh masalah hidup, namun mereka bisa menjadi sahabat yang tulus, tidak adu nasib, tapi tetap setia mendampingi di titik terendah masing-masing.

  1. Memaafkan Meski Disalahpahami

Saat tugas penyamaran di panti, ada beberapa penghuni yang diduga menjadi pelaku pembunuhan. Saat salah satu tertuduh, meski benar adanya, tapi mampu meminta maaf  demi kesehatan mental diri sendiri dan orang lain sangat disarankan. Melihat dari sisi pelaku juga ada baiknya.

5. Dedikasi Tak Sepenuhnya Dihargai

Saat keempat sekawan ini menghadapi kegagalan karir di misi terakhir mereka, salah satu dari mereka menyebutkan “Mengabdi tidak harus menjadi polisi”. Itu menjadi frasa bagi dedikasi mereka yang tak sepenuhnya dihargai. Mereka dipecat.

Dalam kehidupan sehari-hari, meski Anda sudah melakukan segala yang kamu bisa, belum tentu kamu dihargai, bahkan bisa disanksi.

  1. Susah tapi Tidak Mau Memanfaatkan Situasi

Saat sudah dipecat dan menghadapi masalah keuangan, keempat sekawan mendapat mandat dari Koh Acim untuk mencari dan mengambil koper berisikan duit. Scene pencarian ini mengundang gelak tawa penonton di saat Bene dan Boris datang ke masjid dengan berpakaian ala habi dan gus.

Lewat ‘kotbah’ yang disampaikan Gus Bene di masjid itu, terkait halal dan haram, meski Anda mengalami kesusahan, selalulah mencari rezeki yang berkah. (*)

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update