Selasa, 16 Agustus 2022

Waspadai Parental Burnout, Bisa Jadi Depresi, Kenali 3 Gejalanya

Berita Terkait

Kunci Tampil Cantik Ada di 3 Jenis Makeup ini

Glossy dan Tahan Lama

batampos – Burnout atau tumpukan stress negatif (distress) yang tidak menemukan penyelesaian akan berkembang menjadi bermacam-macam gangguan, di antaranya psikosomatik, depresi, gangguan kepribadian, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Tidak hanya anak-anak atau remaja saja yang mengalami burnout. Orang dewasa pun bisa mengalaminya, contohnya pada orang dewasa saat mengurus anak-anaknya. Biasanya orang tua merasa terjebak pada rutinitasnya (mengurus anak), kemudian mengalami kelelahan luar biasa secara mental.

Hal ini disampaikan Psikolog Tatik Imadatus Sa’adati pada Instagram live bersama Teman Parenting awal Januari 2022 lalu. Dikatakan burnout sendiri berbeda dengan stres. Stres yang negatif atau dikenal dengan distress akan membuat produktivitas seseorang menurun.

Ketika tidak ada intervensi dan penyelesaiannya, maka distress akan berkembang menjadi burnout. ”Jadi, bisa disimpulkan bahwa burnout merupakan tumpukan stres yang negatif dan tidak ditangani dengan tepat,” katanya.

Ima, sapaannya, menjelaskan ada beberapa pencetus orang tua bisa mengalami burnout, yaitu orang tua belum siap memiliki anak, tidak ada support sistem yang baik, dan kurang memiliki pengetahuan tentang dunia parenting.

Ada tiga gejala untuk mendeteksi orang tua mengalami parental burnout, yaitu:

1. Lelah Emosional

Orang tua merasa lelah secara emosional. Walau secara fisik terlihat biasa saja, emosi sebenarnya tidak stabil dan tidak terkendali. Beberapa ibu menganggap bahwa ia harus bisa semua karena ia adalah seorang ibu. Padahal, itu termasuk dalam irrational thinking.

“Pikiran kita terbatas, badan kita terbatas, emosi kita juga perlu di-charge,” ungkap Ima.

Akibatnya, para ibu kadang kala tidak sadar kalau sedang lelah. Jika kelelahan terus menumpuk, akan ada fase di mana alam bawah sadar tidak bisa lagi mengontrol pikiran dan perasaan kita. Ketika emosi sudah tidak stabil, maka otak depan akan kesulitan untuk memutuskan atau menyelesaikan sesuatu secara bijak.

2. Bersikap Negatif

Orang tua bisa bersikap negatif terhadap orang lain. Misalnya, jadi sinis, mudah marah, dan tersinggung.

3. Produktivitas Menurun

Produktivitas akan menurun atau pencapaian individu berkurang. Salah satu contohnya, orang tua jadi suka overthinking.

 

Jangan Sepelekan Burnout

Burnout yang dialami orang tua tidak boleh diabaikan karena dapat berkembang menjadi bermacam-macam gangguan, di antaranya psikosomatik, depresi, gangguan kepribadian, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. Misalnya, ketika ibu overthinking terus menerus karena ingin menjadi ibu yang baik dan segalanya berjalan sempurna, bisa jadi ia akan menyalahkan diri sendiri.

Bentuk yang paling ekstrem dari menyalahkan diri sendiri adalah melakukan self harm atau menyakiti diri sendiri. Bahkan, bisa berkembang menjadi keinginan untuk menyakiti bayinya sebab merasa itulah yang menjadi sumber kelelahannya, lalu berujung pada menghilangkan nyawa sendiri atau nyawa sang bayi.

Lantas, bagaiman solusinya?

Ima mengungkapkan, normal apabila sekali waktu ibu merasa lelah, sedih, butuh orang lain, atau ingin me time. Terbukalah dengan support system ketika membutuhkan bantuan atau atur strategi dengan pasangan, apa yang bisa dilakukan agar tidak sampai burnout.

Saat merasa burnout, yang pertama bisa dilakukan adalah rehat sejenak dari situasi tersebut. Mintalah orang lain untuk menggantikan peran ibu untuk sementara waktu dalam mengasuh si kecil.

Kemudian, lakukan sesuatu yang pasti akan membuat ibu senang dan membuat baterai emosi kembali stabil. Misalnya, ibu merasa lebih baik ketika dipeluk oleh suami, maka jangan ragu untuk minta dipeluk suami. Terkadang, perlu juga untuk tidak melakukan apa pun alias bermalas-malasan saja. Seberapa lamanya, tergantung kebutuhan sang ibu. (*)

Reporter : Jpgroup

Update