Minggu, 26 Mei 2024

Ternyata dengan CERDIK dan PATUH Bisa Turunkan Obesitas

Berita Terkait

batampos – Untuk menurunkan angka obesitas pada anak maupun dewasa perlu digalakkan Gerakan lawan obesitas dengan CERDIK dan PATUH.

“Gerakan lawan obesitas bisa dilakukan dengan CERDIK yaitu Cek Kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Dan jika sudah terkena obesitas masyarakat diharapkan melakukan gerakan PATUH yaitu Periksa Kesehatan secara rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan tepat dan teratur, Tetap diet dengan gizi seimbang, Upayakan aktifitas fisik dengan aman, dan Hindari asap rokok, alkohol dan zat karsinogenik lainnya,” ucap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI Dr. Eva Susanti, S.Kp., M.Kes dalam diskusi mengenai obesitas di Jakarta, Rabu (1/3).

Ia juga mengatakan untuk deteksi dini obesitas dan disarankan dilakukan setiap enam bulan sekali baik untuk cek tekanan darah, ukur tinggi dan berat badan, cek lingkar perut, cek leher Rahim dan payudara untuk Wanita serta cek pendengaran dan penglihatan.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, ia menyebut sebanyak 1 dari 5 anak berusia 5-12 tahun, dan 1 dari 7 remaja berusia 13-18 tahun di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

“Kalau kita lihat kelompok umur 0-4 tahun tertinggi 6,24 persen, pada umur 19-55 itu juga tinggi berkisar 13,5 persen. Lebih dari 55 tahun 13,7 persen. Pada usia 3 tahun ke atas sebanyak 8,51 persen mengonsumsi minuman makanan manis kurang dari 3 kali per bulan, 30,22 persen mengkonsumsi manis 1-6 kali per minggu. Justru yang paling mengkhawatirkan 61,27 persen mengonsumsi minuman manis lebih dari 1 kali per hari,” ucapnya.

Berdasarkan data tersebut tercatat angkanya terus meningkat. Jika dibiarkan, ada kecenderungan menyebabkan masalah lainnya yaitu anak-anak bisa terkena penyakit tidak menular empat kali lebih tinggi dibanding anak yang tidak obesitas, dan berisiko juga mengalami sindrom metabolik.

“Prevalensi sindrom metabolik (SM) di Indonesia sebesar 23,34 persen, lebih tinggi pada laki-laki sebesar 26,2 persen dibandingkan pada perempuan sebesar 21,4 persen dan diprediksi menyebabkan kenaikan dua kali lipat risiko terjadinya penyakit jantung dan lima kali lipat pada penyakit diabetes melitus tipe 2,” ucapnya.

Penuntasan obesitas di Indonesia sudah masuk dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dimana obesitas harus diturunkan pravelansinya. Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan gerakan masyarakat hidup sehat, menerapkan isi piringku, melakukan gerakan lawan obesitas.

BACA JUGA:Ini Tips Diet yang Sehat Bagi Penderita Obesitas

Selain itu Kemenkes bersama kementerian Keuangan juga sedang melakukan upaya untuk mengenakan cukai pada panganan yang mengandung pemanis agar industri pangan bisa menurunkan kadar gula pada makanannya.

Kemenkes juga sedang menyiapkan sarana prasarana untuk deteksi dini pengukuran tinggi badan dan berat badan, pengecekkan gula darah dan tekanan darah hingga skrining kanker secara gratis yang bisa dilakukan di puskesmas.

“Target kita secara global harus menurunkan prevalensi tekanan darah, penurunan pengurangan aktivitas fisik harus di bawah 40 persen dan tidak terjadi peningkatan diabetes atau orang obesitas,” ucap Eva.

Pemerintah juga menargetkan dalam pembangunan berkelanjutan atau SDGs ada penurunan 25 persen kematian akibat penyakit tidak menular seperti jantung, kanker, diabetes dan penyakit paru kronik di 2025 dan prevalensi obesitas penduduk usia di bawah 18 tahun tahun 2024 turun 21,8 persen.

“Untuk itu pemerintah menyerukan agar semua pihak, termasuk para guru, orang tua dan pelaku sektor swasta, memprioritaskan asupan nutrisi seimbang pada anak, serta mendorong aktivitas fisik untuk mencegah dan menghentikan rantai obesitas sedini mungkin. Berbagai upaya juga sudah dilakukan pemerintah mulai dari menerbitkan Permenkes tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji serta melakukan edukasi terkait aturan tersebut,” jelas Dr. Eva. (*)

sumber: antara

Update