Selasa, 23 April 2024

Presiden & CEO Toyota Akio Toyoda Mundur, Digantikan Bos Lexus dan GAZOO Racing

Berita Terkait

Akio Toyoda (kiri) dikenal sebagai presiden yang sempat mengkritik akselerasi kendaraan listrik dari para rival yang dinilai terlalu dipaksakan akhirnya mengundurkan diri. Koji Sato (kanan). (Istimewa)

batampos – Akio Toyoda mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai Presiden dan CEO Toyota Motor Corporation. Posisinya akan digantikan oleh Koji Sato, bos Lexus dan GAZOO Racing.

Undur diri Akio dari salah satu raksasa otomotif asal Jepang merek Toyota menjadi kabar yang cukup mengejutkan. Akio Toyoda yang berusia 66 tahun ini hampir 14 tahun mengabdikan diri sebagai orang nomor satu di perusahaan otomotif terbesar di Jepang tersebut, hal ini seperti dikutip dari laman Japantoday (28/1).

Mundurnya Akio Toyoda rencananya akan secara resmi pada 1 April dan akan digantikan oleh pejabat Lexus. Toyoda akan mengambil peran baru sebagai Ketua Dewan Direksi Toyota.

Baca juga:Film Shah Rukh Khan “Pathaan” Langsung Blockbuster dalam 2 Hari

Akio Toyoda akan menduduki jabatan Chairman of The Board of Directors yang nantinya tidak lagi berada pada fungsi Operating Officer, sebagaimana pada jabatan CEO. Ini artinya Akio Toyoda akan berada pada posisi paling atas atau seperti raja, yang hanya menerima laporan dari Perdana Menteri atau dari CEO.

Selain itu nantinya posisi Presiden dan CEO TMC akan dijabat Koji Sato, yang saat ini sebagai Presiden dan CEO Lexus international Co., dan GAZOO Racing Company. Sedangkan Takeshi Uchiyamada, Chairman of BOD yang posisinya akan digantikan oleh Akio Toyoda, turun jabatan jadi Member of BOD.

Akio Toyoda dikenal sebagai presiden yang sempat mengkritik akselerasi kendaraan listrik dari para rival yang dinilai terlalu dipaksakan. Cucu pendiri Toyota beralasan bahwa pengunduran dirinya adalah regenerasi untuk kalangan mudah yang mengikuti tren teknologi digital, mobil listrik dan otonom.

Karena itu adalah arah industri otomotif masa depan yang seharusnya telah digarap sejak lama.

“Saya menjadi orang kuno dalam hal digitalisasi, kendaraan listrik, atau mobil yang terkoneksi. Saya tidak bisa lebih dari menjadi pembuat mobil, dan itu adalah keterbatasan saya. Dengan adanya tim baru bisa melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan. Maka saya mengambil langkah mundur, memberikan kesempatan kaum muda memasuki babak baru tentang seperti apa masa depan mobilitas,” ujar Toyoda.

Alasan yang diungkapkan Toyoda cukup masuk akal, karena dengan keterbatasan Toyoda terkait visi mobil listrik dan teknologi digital, seharusnya langkah regenerasi sudah dilakukan paling tidak 5 tahun lalu. Pasalnya pabrikan lain jauh lebih cepat menuju era digitalisasi dan mobil listrik.

Harus diakui kalau Toyota terkesan lamban dalam bertransformasi ke mobil listrik dan mengadopsi teknologi digital ke produknya. Sementara merek lain telah melangkah jauh dan lebih dulu melakukan transformasi.

Belum lagi industri otomotif Tiongkok yang melesast dalam hal teknologi, meskipun tak secara murni.

Seperti diketahui hingga saat ini, baru satu mobil listrik Toyota dengan EV-Dedicated Flatform yang diluncurkan secara global, yaitu bZ4X yang kemunculannya mengalami banyak kendala. Bahkan harganyapun masih kalah bersaing dengan beberapa kompetitor di kelasnya.

Bisa jadi kalau lambatnya Toyota dalam melakukan strategi tersebut dianggap sebagai permasalahan, ada kekhawatiran akan makin tertinggal jika masih menggunakan cara-cara kuno yang kurang gesit. Padahal langkah ini harus cepat diatasi dalam hal persaingan dan inovasi yang mengedepankan teknologi terkini.(*)

Reporter: jpgroup

Update