Rabu, 17 Agustus 2022

Keringat Dingin, Sesak hingga Berdebar, Waspadai Gejala Serangan Jantung

Berita Terkait

ILUSTRASI. Tren penyakit tak menular seperti serangan jantung mulai bergeser ke usia muda.
Gejalanya cukup khas dan semestinya bisa terdeteksi lebih dini. (pixabay)

batampos.co.id – Dalam webinar bertajuk ‘Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin?’ terungkap tren penyakit tak menular seperti serangan jantung mulai bergeser ke usia
muda.

selama pandemi, laju rata-rata mortalitas di rumah sakit akibat serangan jantung
dilaporkan meningkat hingga 23 persen. Bahkan, 16,3 persen pasien yang dirawat di ruang
isolasi Covid-19 ternyata mempunyai penyakit bawaan kardiovaskular.

“Dengan gaya hidup pasif selama pandemi ditengarai menjadi salah satu pemicunya,” kata
Director, Country Manager Diagnostics, Roche Indonesia, Ahmed Hassan secara daring, Kamis
(18/11).

Bagaimana cara mendeteksinya?

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Lippo Village, DR. dr.
Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI menjelaskan, penyakit jantung
telah menyebabkan setidaknya 15 dari 1.000 orang di Indonesia menderita penyakit
kardiovaskular pada 2018. Gejala penyakit jantung kerap tidak disadari oleh pengidapnya.
Terutama jika pasien masih berusia muda dan produktif.

Gejalanya cukup khas dan semestinya bisa terdeteksi lebih dini. Diantaranya sesak napas yang disertai dengan keringat dingin, rasa lemas,
jantung berdebar, atau nyeri dada sebelah kiri. Jika mengalami gejala itu, kemungkinan
besar menandakan adanya gejala penyakit jantung yang perlu dideteksi dan ditangani sejak
dini.

Oleh karena itu, cek jantung sejak dini juga berperan penting dalam menentukan tes-tes
lanjutan apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi kesehatan jantung masing-masing
individu. Menurut dr. Antonia, gejala-gejala penyakit jantung di fase awal kerap dirasakan
sebagai gejala umum yang tidak membahayakan kesehatan.

“Sehingga, banyak pasien yang baru memeriksakan jantungnya ketika sudah mengalami gejala
yang cukup parah,” katanya.

Kapan kita perlu cek jantung lebih dini?

Negara lain bahkan merekomendasikan warganya untuk melakukan cek jantung rutin secara
berkala minimal lima tahun sekali sejak usia 18 tahun, dan harus semakin sering jika
memiliki riwayat kesehatan atau gaya hidup tertentu. Pada tahap ini, deteksi dini sudah
menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya keterlambatan
penanganan pada penyakit jantung.

Deteksi dini penyakit jantung menjadi opsi ideal untuk mencegah terlambatnya penanganan
penyakit jantung pada pasien. Salah satu inovasi deteksi dini penyakit jantung adalah
penggunaan biomarker Troponin T dan NT-proBNP dalam tes darah, yang kini diakui sebagai
standar emas deteksi dini penyakit jantung di dunia. Selain mampu mendeteksi penyakit
jantung sejak dini, inovasi ini juga memungkinkan pasien untuk mencari tahu tingkat
keparahan kondisi, merencanakan pengobatan yang efektif sesuai kondisi kesehatan, dan
mencari tahu apakah pengobatan yang selama ini dijalani sudah bekerja dengan baik. (*)

Reporter : Jpgroup

Update