Sabtu, 27 Juni 2026

Ini 7 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak Laki-Laki yang Harus Dihindari

Berita Terkait

Ciri Fisik Ayah pada Anak
Ilustrasi ayah dan anak laki-laki. (Freepik)

batampos – Psikologi menjelaskan bahwa mendidik anak laki-laki bukan hanya soal apa yang dilakukan orang tua, tetapi juga soal kesalahan yang harus mereka hindari.

Budaya yang membiarkan anak laki-laki “membesarkan diri sendiri” telah terbukti berkontribusi pada berbagai masalah serius termasuk kekerasan dan isolasi sosial.

Para ahli menegaskan bahwa orang tua yang menghindari kesalahan-kesalahan tertentu mampu membesarkan anak laki-laki yang lebih sehat secara emosional dan sosial.

Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (27/6), berikut tujuh kesalahan dalam mendidik anak laki-laki yang menurut psikologi harus dihindari oleh setiap orang tua demi tumbuh kembang yang sehat.

1. Mempermalukan anak laki-laki karena menunjukkan kerentanan

Terapis Dr. Anna Elton menjelaskan bahwa anak laki-laki yang dipermalukan karena rentan justru belajar menyembunyikan emosinya dengan lebih baik.

Frasa seperti “jadi pria yang kuat” atau “anak laki-laki tidak boleh menangis” mengajarkan pembatasan emosi, bukan bahasa emosi yang sehat.

Literasi emosional adalah keterampilan perkembangan, dan anak yang bisa mengungkapkan perasaannya cenderung tidak membutuhkan agresi untuk mengatasi emosi tersebut.

2. Membiarkan influencer membesarkan anak laki-laki secara digital

Psikoterapis Nicole Runyon menjelaskan bahwa banyak orang tua secara tidak sengaja menyerahkan tugas pengasuhan kepada konten online dan influencer.

Algoritma media sosial dapat menampilkan konten misoginis dari Manosphere dalam waktu sangat singkat kepada anak laki-laki yang baru mulai menggunakan platform.

Anak laki-laki yang kekurangan koneksi, harga diri, dan sistem nilai lebih rentan terjebak dalam keyakinan berbahaya yang ditawarkan komunitas tersebut.

3. Melindungi anak laki-laki dari ketidaknyamanan dan kegagalan

Melindungi anak dari segala bentuk kesulitan justru merampas ketangguhan yang seharusnya mereka kembangkan sejak usia dini.

Runyon menjelaskan bahwa harapan tinggi dipadukan dengan kasih sayang besar dari orang tua membantu membangun pertumbuhan emosional anak secara optimal.

Membiarkan anak laki-laki bertanggung jawab atas kesalahan mereka justru membentuk pria yang merasa kuat dan mampu, bukan tidak berdaya.

4. Menetapkan standar yang lebih tinggi pada anak perempuan

Dr. Elton menjelaskan bahwa anak-anak sudah memahami peran gender sejak usia prasekolah melalui rumah, media, dan lingkungan sosial mereka.

Anak perempuan sering dituntut standar perilaku lebih tinggi dan tugas rumah tangga lebih banyak dibanding saudara laki-laki mereka di rumah yang sama.

Ketidakseimbangan ini berisiko menciptakan pria dewasa yang mengharapkan pasangan masa depan menanggung beban emosional dan domestik tanpa timbal balik yang setara.

5. Mengasumsikan bahwa ayah tidak memiliki pengaruh besar

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah sangat penting bagi perkembangan emosional anak laki-laki, meski budaya sering menyalahkan ibu sepenuhnya.

Dr. Elton menjelaskan bahwa anak laki-laki mengamati bagaimana ayah mereka menangani amarah, memperlakukan pasangan, dan mengekspresikan kelembutan secara langsung.

Ayah perlu menunjukkan akuntabilitas dan perbaikan setelah konflik agar anak memahami bahwa kekuatan dan kematangan emosional bisa berjalan beriringan.

6. Gagal mencontohkan hubungan yang sehat di rumah

Runyon menjelaskan bahwa anak laki-laki yang melihat orang tuanya menjalani hubungan komunikatif yang sehat cenderung mereplikasi dinamika tersebut kelak.

Orang tua menjadi template pertama bagaimana seorang anak akan berelasi dengan orang penting lainnya sepanjang hidup mereka di masa depan.

Ayah juga perlu mencontohkan persahabatan platonik yang sehat agar anak laki-laki memahami koneksi emosional tidak hanya milik perempuan.

7. Mempercayai narasi “memang begitulah anak laki-laki”

Sebuah eksperimen sosial televisi tahun 2009 menunjukkan bahwa rumah anak laki-laki dengan cepat berubah kacau penuh konflik dan hierarki toksik.

Sementara rumah anak perempuan justru membangun sistem yang setara dan berfungsi dengan baik, membuktikan bahwa perilaku ini dipelajari bukan bawaan.

Dr. Elton menegaskan bahwa maskulinitas tidak memerlukan kebekuan emosional, dan anak laki-laki perlu didorong untuk jujur secara emosional sekaligus tegas. (*)

ReporterJPGroup

Update