Minggu, 27 November 2022

Boleh Suntik Botulinum Toxin untuk Atasi Kerutan Wajah Tapi Jangan Berlebihan

Berita Terkait

Kerutan di wajah (Istimewa)

batampos – Suntik botulinum toxin untuk atasi kerutan wajah diperbolehkan asal tidak berlebihan. Pada usia 30-an, jumlah kandungan kolagen di dalam tubuh semakin berkurang. Masalah kerutan pun sudah mulai muncul.

Perawatan kecantikan menawarkan berbagai cara untuk memperlambat penuaan dini, salah satunya dengan kandungan Botulinum Toxin.

Konsultan Dermato-venereologist dari Jakarta, Indonesia, dr. Lis Surachmiati Suseno, salah satu penulis publikasi konsensus, mengatakan botulinum toxin adalah obat penting yang telah dan masih digunakan secara global selama lebih dari 3 dekade. Indikasinya bervariasi dari kondisi medis yang serius hingga tujuan kosmetik dan dermatologis. Obat ini menghambat pelepasan asetilkolin yang menyebabkan relaksasi pada otot target.

“Sebagai dokter kulit, saya memiliki hak istimewa untuk memberikan botulinum-toxinA, kepada banyak pasien dalam praktik yang saya lakukan di Indonesia, sejak tahun 2001, beberapa tahun setelah persetujuan FDA. Kemudahan pemberian, hasil yang hampir instan, dan kepuasan pasien adalah salah satu yang menempatkan botulinum-toxinA di atas perawatan lainnya,” jelasnya.

Baca juga: Senam Wajah Hingga Perawatan Khusus untuk Atasi Double Chin

Namun, dengan penggunaan berulang, pasien akan mengalami resistensi, efeknya akan hilang lebih cepat. Pada 6 bulan pertama dan kemudian diperpendek menjadi 3-4 bulan, pasien disebut sebagai secondary non-responders.

“Karena itu, kami mengedukasi masyarakat agar lebih bijak untuk tidak berlebihan melakukan injeksi BoNT-A. Para praktisi pun diimbau untuk berhati-hati saat menaikkan dosis BoNT-A ketika hasil injeksi tidak lagi memperlihatkan efektivitas seperti injeksi pertama,” kata dr. Lis

Panel multidisiplin internasional, Aesthetic Council for Ethical use of Neurotoxin Delivery (ASCEND), meluncurkan publikasi konsensus di IMCAS Asia 2022, dengan judul penelitian ‘Emerging trends in botulinum neurotoxin A resistance: An international multidisciplinary review and consensus‘.

Namun ternyata, penggunaan suntik anti-kerutan Botulinum Toxin A (BoNT-A) dalam terapi estetika secara berkepanjangan ternyata berdampak negatif bagi kesehatan tubuh. Efek yang paling nyata adalah kondisi imunoresistensi atau NAb-induced secondary nonresponse (SNR).

Baca juga: Perawatan Kulit Wajah dengan Injectable Treatments dan Efek Sampingnya

Dampaknya adalah pasien merasa seolah suntikan itu kurang manjur. Misalnya saat diinjeksikan tidak lagi merespons secara efektif, efeknya tidak sebaik injeksi pertama. Ini membahayakan, karena jika suatu saat Anda membutuhkan terapi injeksi BoNT-A untuk kondisi penyakit serius, terapi jadi tidak efektif lagi.

“Terapi BoNT-A sering kali dilakukan seumur hidup, kami setuju bahwa menggunakan formulasi BoNT-A yang sangat murni dengan risiko imunogenik terendah untuk meminimalkan risiko pembentukan NAb akan menjadi keputusan klinis yang bijaksana,” kata Plastic Surgeon, direktur The Specialists: Lasers, Aesthetic & Plastic Surgery, Hong Kong dan salah satu penulis dr. Wilson Ho, dalam konferensi pers, Kamis (29/9).

Sejak 1999, injeksi Botulinum Toxin A atau dikenal dengan BoNT-A telah menjadi prosedur estetika yang paling banyak dilakukan di dunia. Selain itu ini juga merupakan pilihan perawatan lini pertama untuk berbagai kondisi medis seperti distonia serviks dan spastisitas tungkai.

Efek Perawatan dengan BoNT-A

Efek BoNT-A bersifat sementara dan dapat berkurang seiring waktu. Injeksi berulang diperlukan untuk mempertahankan efek perawatan. Meskipun demikian, injeksi berulang BoNT-A, yang merupakan protein bakteri asing, dapat merangsang pembentukan antibodi, termasuk antibodi netralisasi (NAbs) yang dapat melawan aktivitas biologisnya.

Baca juga: Kulit Wajah Pria Perlu Perawatan Lebih Intens

Menurut sebuah studi riset konsumen yang dilakukan oleh Merz Aesthetics, lebih banyak responden yang melaporkan penurunan kemanjuran perawatan BoNT-A (69 persen pada 2018 dibandingkan dengan 79 persen pada 2021). Tindakan paling umum yang diambil oleh pasien untuk mengatasi penurunan kemanjuran tersebut adalah dengan terus melakukan perawatan tetapi dengan dosis dan frekuensi yang ditingkatkan.

Kondisi ini disebut imunoresistensi. Mengatasinya, dosis yang digunakan biasanya jauh lebih tinggi daripada dosis yang digunakan dalam indikasi estetika.

“Kami mendesak praktisi untuk memainkan peran aktif dalam meminimalkan faktor risiko yang
dapat dimodifikasi untuk imunogenisitas BoNT-A dengan mempertimbangkan riwayat perawatan pasien,” katanya.

Rekomendasi lainnya dari publikasi ini adalah pentingnya meningkatkan kesadaran konsumen tentang potensi risiko imunogenisitas. Tenaga medis profesional dapat memainkan peran besar dalam mendukung pasien untuk memahami dampak perawatan pada kesehatan jangka panjang mereka secara keseluruhan, bukan hanya pada hasil perawatan tertentu. (*)

Reporter : JPGroup

Update