
batampos – Mendengkur atau ngorok saat tidur sering dianggap hal biasa. Padahal, suara dengkuran bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saluran napas saat seseorang tertidur. Kondisi ini tak hanya mengganggu pasangan atau anggota keluarga, tetapi juga bisa menurunkan kualitas tidur penderitanya.
Mendengkur terjadi ketika aliran udara melewati jaringan yang rileks di tenggorokan, lalu menimbulkan getaran sehingga terdengar suara. Intensitasnya bisa ringan, sesekali, hingga keras dan terjadi hampir setiap malam.
Pada sebagian kasus, mendengkur hanyalah efek kelelahan atau posisi tidur. Namun pada kondisi tertentu, dengkuran juga dapat menjadi gejala gangguan serius seperti sleep apnea. Karena itu, penting mengetahui apa saja penyebab mendengkur agar bisa ditangani lebih tepat.
Dilansir dari Alodokter, Halodoc dan Klik Dokter, berikut beberapa penyebab mendengkur yang umum terjadi.
1. Posisi Tidur Telentang
Salah satu penyebab paling umum mendengkur adalah posisi tidur telentang. Saat tidur terlentang, lidah dan jaringan lunak di belakang tenggorokan cenderung jatuh ke belakang. Kondisi ini membuat saluran napas menyempit sehingga udara yang lewat menimbulkan getaran dan suara dengkuran. Jika sering ngorok saat telentang, cobalah tidur menyamping untuk membantu membuka jalur napas.
2. Kelelahan dan Kurang Tidur
Tubuh yang terlalu lelah dapat membuat otot-otot tenggorokan menjadi lebih rileks saat tidur. Saat jaringan terlalu kendur, saluran napas lebih mudah menyempit. Akibatnya, seseorang bisa mendengkur meski biasanya tidak ngorok. Kondisi ini sering terjadi setelah begadang, kerja berat, atau kurang tidur selama beberapa hari.
3. Berat Badan Berlebih
Kelebihan berat badan, terutama penumpukan lemak di area leher, dapat menekan saluran napas ketika tidur. Semakin sempit jalur udara, semakin besar kemungkinan timbul getaran yang menyebabkan dengkuran. Obesitas juga menjadi faktor risiko utama sleep apnea, yaitu gangguan napas saat tidur yang perlu penanganan medis.
4. Konsumsi Alkohol Sebelum Tidur
Minum alkohol, terutama menjelang waktu tidur, bisa membuat otot tenggorokan lebih rileks dari biasanya. Efek ini menyebabkan saluran napas lebih mudah kolaps dan memicu suara ngorok lebih keras. Selain alkohol, obat penenang atau obat tidur tertentu juga dapat memberikan efek serupa.
5. Hidung Tersumbat
Saat hidung tersumbat karena flu, pilek, alergi, sinusitis, atau polip hidung, aliran udara lewat hidung menjadi terhambat. Tubuh kemudian cenderung bernapas melalui mulut, yang lebih mudah menyebabkan dengkuran. Karena itu, banyak orang mengalami ngorok saat sedang pilek atau alergi kambuh.
6. Faktor Usia
Semakin bertambah usia, otot dan jaringan di tenggorokan cenderung kehilangan kekuatan dan elastisitasnya. Akibatnya, saluran napas menjadi lebih mudah menyempit saat tidur. Tak heran, kebiasaan mendengkur lebih sering ditemukan pada usia dewasa hingga lansia dibanding usia muda.
7. Bentuk Anatomi Mulut dan Tenggorokan
Beberapa orang memiliki struktur tubuh yang membuat risiko mendengkur lebih tinggi, misalnya:
-Langit-langit mulut tebal
-Uvula (anak tekak) panjang
-Rahang sempit
-Lidah besar
-Amandel membesar
Bentuk anatomi tersebut dapat mempersempit ruang napas saat tidur dan memicu getaran.
8. Sleep Apnea
Mendengkur keras yang disertai henti napas sesaat saat tidur bisa menjadi tanda sleep apnea. Kondisi ini terjadi ketika saluran napas tersumbat berulang kali, sehingga napas berhenti beberapa detik lalu kembali normal.
Gejala lain sleep apnea:
-Mengantuk berat di siang hari
-Bangun tidur tidak segar
-Sakit kepala pagi hari
-Mudah lelah
-Sulit konsentrasi
Sleep apnea perlu diperiksa dokter karena berkaitan dengan risiko hipertensi dan penyakit jantung. (*)
