Selasa, 13 Januari 2026

Waspadai Jika Anda Punya Kebiasaan Menggertakkan Gigi Saat Tidur, Tanda Stres Berat

Berita Terkait

Ilustrasi sakit rahang bisa jadi karena efek bruxism atau sakit akibat menggertakkan gigi saat tidur. (Freepik)

batampos – Menggertakkan gigi saat tidur atau bruxism ternyata tidak hanya masalah
kebiasaan saja.

Dalam dunia medis, kebiasaan menggertakkan gigi atau bruxism adalah sesuatu yang serius. Kaitannya bisa jadi ada tekanan emosional yang tersembunyi.

Bruxism adalah kebiasaan menggertakkan gigi atau mengatupkan gigi tanpa sadar, baik saat terjaga maupun saat tidur.

Baca juga: Sarat Nutrisi, Creamy Chicken Soup Cocok untuk Menu Harian, Ini Resepnya

Penelitian di PubMed Central mencatat, orang dengan tingkat stres tinggi atau gangguan
kecemasan memiliki risiko lebih besar mengalami bruxism dibandingkan mereka yang
emosinya lebih stabil.

Bahkan, bukan hanya stres berat yang berperan. Ketegangan ringan yang menumpuk
dari aktivitas sehari-hari pun bisa memicu kebiasaan ini jika tidak dikelola dengan
baik.

Saat terjadi di malam hari, sleep bruxism ini kerap tidak disadari hingga muncul keluhan
seperti nyeri rahang, sakit kepala, atau kerusakan pada gigi.

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health (NIH), bruxism
sering dikaitkan dengan gangguan tidur dan respons tubuh terhadap stres.

Mengapa seseorang bisa bergesekan giginya saat tidur? Jawabannya banyak terkait dengan
stres dan kecemasan.

Baca juga: Siwon Super Junior Tambah Kaya dari Investasi Real Estate

Saat kita mengalami tekanan emosional yang besar, tubuh mencari jalan lain untuk
meluapkan ketegangan tersebut. Salah satu jalannya adalah dengan mengaktifkan otot-otot rahang secara tidak sadar.

Dampak Gigi Bergesekan Saat Tidur

Mungkin terlihat sepele, tapi kebiasaan ini bisa membawa efek jangka panjang yang serius:

Kerusakan Gigi: Pengikisan enamel, gigi patah, atau bahkan kehilangan gigi.

Nyeri Rahang: Otot rahang menjadi tegang dan kaku, kadang menjalar ke kepala dan leher.

Gangguan Tidur: Tidur jadi kurang nyenyak, dan suara gesekan gigi bisa mengganggu
pasangan tidur.

Jika dibiarkan terus-menerus, bruxism juga bisa memicu gangguan pada sendi rahang
(Temporomandibular Joint Disorder atau TMJ). Bagaimana Mengatasinya?

Karena akar masalahnya sering kali emosional, penanganan bruxism perlu mencakup pendekatan fisik dan psikologis:

Kelola Stres: Terapkan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau sekadar
membiasakan diri melakukan pernapasan dalam sebelum tidur.

Terapi Psikologis: Jika stres dan kecemasan terasa sulit dikendalikan, berkonsultasi
dengan psikolog bisa membantu mencari akar masalah dan mengatasinya lewat terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Gunakan Mouthguard: Dokter gigi bisa membuatkan pelindung gigi khusus untuk
dipakai saat tidur, melindungi gigi dari gesekan berlebih.

Selain itu, mengurangi konsumsi kafein, alkohol, serta memperbaiki rutinitas tidur
juga sangat dianjurkan untuk mencegah bruxism makin parah.

Baca juga: Perkuat Layanan di Jawa Barat, Bridgestone Indonesia Tambah Jaringan Baru di Cianjur

Mengenali tanda-tandanya sejak dini dan mengelola stres dengan baik dapat mencegah
kerusakan jangka panjang, serta membantu Anda tidur lebih nyenyak dan bangun dengan rasa nyaman.

Kalau kamu merasa mengalami gejala ini, jangan ragu untuk mencari bantuan
profesional. Ingat, tubuh kita sering “berbicara” dengan cara yang tak terduga—
termasuk lewat gigi yang bergesekan di malam hari. (*)

Sumber: Jpgroup

Update