Senin, 19 Januari 2026

Unik! Chef AI Pertama Debut di Dubai, Gabungkan Teknologi dan Gastronomi

Berita Terkait

Chef AI yang bakal debut di Dubai. F. x.com/ThisisMAD_co.

batampos – Dubai kembali membuat terobosan unik di dunia kuliner dengan meluncurkan chef AI pertama di dunia bernama Chef Aiman. Chef digital ini akan beroperasi di restoran berkonsep futuristik, Woohoo, yang dibuka pada September 2025 di kawasan dekat Burj Khalifa.

Woohoo dirancang sebagai destinasi kuliner berteknologi tinggi dengan atmosfer cyberpunk. Restoran ini juga menyajikan pasangan koktail berbasis AI untuk melengkapi pengalaman makan para pengunjung.

Teknologi di balik Chef Aiman dikembangkan oleh perusahaan UMAI yang bekerja sama dengan grup perhotelan dan layanan makan Gastronaut Hospitality. Meski disebut “chef”, Aiman bukan robot fisik yang memasak di dapur, melainkan “otak dapur” yang bertugas merancang konsep menu.

Chef Aiman menganalisis data, resep global, ilmu pangan, hingga tren kuliner internasional untuk menghasilkan kombinasi rasa, menu, serta ide hidangan baru. Dengan machine learning, AI ini membagi makanan ke berbagai kategori, dari manis, asam, gurih, hingga tekstur dan suhu.

Aiman telah dilatih menggunakan ribuan resep dan data gastronomi molekuler, memungkinkan sistem ini merancang hidangan unik yang kemudian dieksekusi oleh koki manusia di dapur.

Chef selebritas Dubai, Reif Othman, memimpin tim dapur manusia yang menyiapkan hidangan berdasarkan rancangan Aiman. Para koki tetap memegang peran penting dalam eksekusi, penyesuaian rasa, serta sentuhan manusia yang tidak bisa sepenuhnya digantikan AI.

Pengembang menegaskan Chef Aiman hadir untuk meningkatkan kreativitas dan memperluas ide di dapur, bukan menggantikan peran koki manusia.

Chef Aiman juga hadir di media sosial melalui akun Instagram @aiman.chef, yang berisi unggahan resep, cuplikan podcast, hingga kreasi menu berbasis AI.

Inovasi ini dianggap sebagai bagian dari evolusi kuliner global yang semakin menggabungkan teknologi, data, dan seni gastronomi.

Meski begitu, penggunaan AI di dapur masih menuai skeptisisme karena makanan dianggap membutuhkan kreativitas serta indera manusia yang tidak mudah disubstitusi oleh algoritma. (*)

Reporter: Juliana Belence

Update