Kamis, 5 Maret 2026

Uni Eropa Dorong Penggunaan Baja Hijau untuk Mobil, Industri Khawatir Pasokan

Berita Terkait

Sumber gambar: x.com/simonahac.

batampos – Uni Eropa tengah merancang kebijakan baru untuk memperkuat industri baja sekaligus menekan emisi dari sektor otomotif. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah mewajibkan produsen mobil menggunakan baja rendah karbon atau green steel dalam proses produksi kendaraan.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari rancangan Industrial Accelerator Act, yang menargetkan penurunan emisi karbon dioksida (CO₂) hingga 90 persen untuk mobil baru pada 2035.

Kebijakan ini berbeda dari rencana awal Uni Eropa yang sempat mengusulkan pelarangan total kendaraan bermesin pembakaran internal.

Dengan aturan baru ini, produsen mobil Eropa yang selama ini menyumbang sekitar seperlima dari total permintaan baja di kawasan diperkirakan harus mengganti sebagian besar penggunaan baja konvensional dengan baja hijau serta bahan bakar alternatif.

Namun, tantangan besar muncul dari sisi produksi. Saat ini, baja hijau masih diproduksi dalam jumlah sangat terbatas dan bergantung pada hidrogen hijau yang dihasilkan dari energi terbarukan.

Keterbatasan produksi membuat pasokan baja hijau sulit dipenuhi dalam skala besar. Selain itu, biaya produksinya juga diperkirakan sekitar 30 persen lebih mahal dibandingkan baja konvensional.

Sejumlah proyek pembangunan fasilitas baja hijau bahkan dilaporkan mengalami penundaan hingga pembatalan akibat tingginya biaya investasi serta keterbatasan pasokan hidrogen hijau.

Beberapa produsen baja besar seperti ArcelorMittal dan Salzgitter mulai menyesuaikan strategi dengan meningkatkan produksi berbasis logam daur ulang atau scrap. Sementara perusahaan seperti Thyssenkrupp masih merundingkan ulang dukungan subsidi dengan pihak Uni Eropa.

Meski demikian, bahan baku daur ulang juga memiliki keterbatasan dan dinilai tidak cukup untuk menggantikan peran baja hijau dalam jangka panjang.

Asosiasi otomotif Jerman dan sejumlah pelaku industri mengkritik rencana kebijakan tersebut. Mereka menilai aturan tersebut berisiko mengikat industri pada teknologi yang belum matang dan di luar kendali produsen.

Selain itu, belum adanya definisi standar yang jelas mengenai baja hijau juga membuat pasar bahan tersebut dinilai masih tidak teratur.

“Pasar baja hijau saat ini seperti ‘wild west’ karena belum ada standar yang jelas,” ujar salah satu pelaku industri.

Data dari Global Leadership Group for Industry Transition menunjukkan kapasitas produksi baja hijau global diproyeksikan mencapai sekitar 28 juta ton per tahun pada 2050.

Namun, hingga kini hanya sekitar sepertiga kapasitas tersebut yang sedang dalam tahap konstruksi, termasuk sekitar 18 juta ton yang berada di Eropa.

Uni Eropa sendiri terus berupaya mendorong penggunaan baja hijau sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi industri otomotif. Namun, keterbatasan pasokan, tingginya biaya produksi, serta belum adanya standar industri yang jelas masih menjadi tantangan besar bagi implementasi kebijakan tersebut. (*)

Update