Senin, 9 Februari 2026

Ucapan Orang Tua yang Bisa Menjadi Luka Emosional Seumur Hidup pada Anak

Berita Terkait

Ilustrasi orang tua yang memarahi anaknya. (Freepik)

batampos – Kata-kata orang tua memiliki kekuatan yang jauh melampaui niat di balik pengucapannya.

Dalam masa tumbuh kembang, suara orang tua menjadi rujukan utama bagi anak untuk memahami siapa dirinya dan seberapa berharganya ia di dunia ini.

Ucapan yang terlontar dalam kondisi lelah, marah, atau frustrasi bisa tertanam jauh lebih dalam daripada yang disadari.

Sering kali, orang tua bermaksud mendidik atau menegur, namun pilihan kata yang keliru justru meninggalkan bekas emosional yang bertahan lama.

Luka ini tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi memengaruhi cara anak membangun kepercayaan diri, relasi, dan pandangan terhadap diri sendiri.

Dilansir dari Geediting, inilah delapan ucapan orang tua yang tanpa disadari dapat menjadi luka emosional seumur hidup bagi anak.

1. “Kamu selalu bikin masalah.”

Ucapan ini memberi label negatif yang melekat kuat pada identitas anak.

Ketika kata “selalu” digunakan, anak belajar melihat dirinya sebagai sumber masalah, bukan sebagai individu yang sedang belajar dari kesalahan.

Seiring waktu, label ini dapat berkembang menjadi keyakinan bahwa dirinya memang bermasalah.

Anak tumbuh dengan rasa bersalah yang berlebihan dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri, bahkan dalam situasi yang tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.

2. “Kenapa kamu tidak bisa seperti anak orang lain?”

Perbandingan dengan orang lain sering meninggalkan luka mendalam.

Ucapan ini menyampaikan pesan bahwa anak tidak cukup baik sebagaimana dirinya sekarang.

Dampaknya bukan sekadar rasa cemburu atau sedih sesaat, melainkan tumbuhnya perasaan tidak layak.

Anak bisa berkembang dengan keyakinan bahwa cinta dan penerimaan hanya diberikan jika ia memenuhi standar tertentu.

3. “Kamu terlalu sensitif.”

Ketika emosi anak diremehkan, ia belajar bahwa perasaannya tidak valid.

Ucapan ini mengajarkan anak untuk meragukan emosi sendiri dan menekan apa yang dirasakannya.

Dalam jangka panjang, anak mungkin kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan.

Ketidakmampuan ini sering terbawa hingga dewasa, memengaruhi hubungan interpersonal dan kesehatan mental.

4. “Sudah, jangan lebay.”

Kalimat ini sering diucapkan untuk menghentikan reaksi emosional anak.

Namun, pesan tersembunyi yang diterima anak adalah bahwa ekspresi emosinya tidak pantas atau berlebihan.

Anak belajar menahan diri demi diterima. Penekanan emosi yang terus-menerus dapat berkembang menjadi kecemasan, ketakutan akan penolakan, atau kesulitan dalam mengelola stres.

5. “Ayah atau Ibu melakukan ini demi kamu.”

Ucapan ini terdengar penuh pengorbanan, namun dapat menciptakan beban emosional yang besar.

Anak bisa tumbuh dengan rasa utang emosional dan tekanan untuk selalu membalas pengorbanan tersebut.

Alih-alih merasa dicintai secara bebas, anak mungkin merasa harus memenuhi ekspektasi tertentu agar layak menerima kasih sayang.

Pola ini sering memengaruhi cara anak membangun relasi di masa dewasa.

6. “Kamu mengecewakan Ayah dan Ibu.”

Kekecewaan yang diungkapkan secara langsung dapat menghantam harga diri anak.

Kalimat ini membuat anak mengaitkan nilai dirinya dengan kemampuan memenuhi harapan orang tua.

Rasa takut mengecewakan sering berkembang menjadi perfeksionisme berlebihan.

Anak tumbuh dengan tekanan internal yang kuat dan ketakutan membuat kesalahan.

7. “Kamu memang keras kepala.”

Memberi label kepribadian pada anak mengunci identitasnya dalam satu karakter negatif.

Anak tidak lagi melihat perilaku sebagai sesuatu yang bisa diubah, melainkan sebagai sifat yang melekat.

Label ini dapat menghambat perkembangan diri. Anak mungkin berhenti berusaha berubah karena merasa dirinya memang seperti itu sejak awal.

8. “Kalau bukan karena kamu, hidup Ayah dan Ibu lebih mudah.”

Ucapan ini membawa beban emosional yang sangat berat. Anak dapat merasa dirinya menjadi sumber penderitaan orang tua.

Perasaan bersalah yang mendalam sering terbawa hingga dewasa.

Anak mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa keberadaannya merepotkan orang lain, sehingga cenderung mengorbankan diri sendiri demi diterima.(*)

ReporterJPGroup

Update