Rabu, 27 Mei 2026

Tren Fashion Genderless Merebak di Jepang, Abaikan Batasan Gaya Pria dan Wanita

Berita Terkait

Seorang pria membawa tote bag yang sejatinya didesain untuk perempuan. (sanyo shokai/via jiji)

batampos – Tren fashion tanpa batas gender makin menguat di Jepang, terutama di kalangan Generasi Z. Gaya berpakaian kini semakin menonjolkan ekspresi diri, tanpa terlalu terikat norma tradisional soal pakaian pria dan wanita.

Dilansir dari The Japan Times, Rabu (27/5), salah satu contohnya adalah makin lazimnya pria menggunakan payung parasol saat musim panas. Di sisi lain, perempuan mulai melirik item fashion yang selama ini identik dengan pria, seperti dasi.

Perubahan tren ini ikut dibaca pelaku industri mode. Sejumlah perusahaan pakaian di Jepang mulai menyesuaikan produk dan strategi penjualan mereka.

Raksasa fesyen pria Aoyama Trading, misalnya, meluncurkan produk Skinny Tie pada Januari lalu. Dasi ini dirancang khusus untuk perempuan dengan bentuk lebih tipis, lebih pendek, dan simpul yang lebih kecil dibanding dasi pria.

Perusahaan tersebut juga menjual setelan uniseks di area pakaian pria maupun wanita di toko mereka. Langkah itu diambil seiring perubahan selera konsumen muda.

Survei Aoyama Trading terhadap sekitar 850 pengguna aplikasi perempuan tahun lalu menunjukkan hampir separuh responden tertarik pada gaya berpakaian yang dirancang untuk pria. Menurut perusahaan, item fashion pria kini justru diminati perempuan muda.

Dengan semakin sedikit pekerja yang mengenakan jas formal ke kantor, perusahaan itu juga mencari pasar baru. Salah satunya dari pelanggan perempuan, termasuk Gen Z.

Fenomena serupa terlihat di Sanyo Shokai. Perusahaan apparel besar itu mendapati tas kecil yang awalnya dirancang untuk perempuan justru laris di kalangan pria.

Penjualan bulan pertama tote bag makan siang yang dirilis akhir November lalu mencapai sekitar tiga kali lipat dari target perusahaan. Pembeli utamanya justru pria berusia 30 hingga 40 tahun.

Banyak dari mereka bahkan membeli boneka beruang kecil untuk menghias tas tersebut. Detail ini menunjukkan pergeseran selera yang makin cair.

Tren lain yang ikut naik adalah penggunaan parasol oleh pria. Pembuat payung Waterfront mencatat 23 persen pria berusia 30-an mulai memakai parasol tahun lalu, seiring suhu musim panas yang makin ekstrem.

Perusahaan pakaian pria Aoki juga melihat banyak pembeli payung parasol di tokonya adalah laki-laki. Menurut perusahaan, toko pakaian kerja membuat pria merasa lebih nyaman membeli produk tersebut. (*)

ReporterJPGroup

Update