
batampos – Dunia seni internasional berduka atas wafatnya Tom Stoppard, dramawan dan penulis skenario pemenang Oscar untuk Shakespeare in Love (1998). Tom Stoppard meninggal pada usia 88 tahun, Sabtu (29/11).
“Tom Stoppard meninggal dengan tenang di rumahnya di Dorset, Inggris bersama keluarga,” ujar United Agents, dikutip dari PBS, Senin (1/12).
Tom Stoppard, yang lahir dengan nama Tomáš Sträussler di Cekoslowakia pada 3 Juli 1937, merupakan putra pasangan Eugen Straussler dan Martha Beckova.
Saat Perang Dunia II, keluarganya yang berlatar belakang Yahudi mengungsi ke Singapura dan India sebelum akhirnya menetap di Inggris selepas perang.
Ia kemudian mengadopsi nama Tom Stoppard dan bersekolah di Pocklington School, Yorkshire, sebelum keluar pada usia 17 tahun dan memilih tidak melanjutkan kuliah.
Dalam masa awal kariernya, Tom bekerja sebagai jurnalis di surat kabar lokal di Bristol dan mulai menulis kritik teater serta film. Dari situlah kecintaannya terhadap drama tumbuh.
Terobosan besarnya hadir lewat drama Rosencrantz and Guildenstern Are Dead (1966), yang kemudian menjadi ikon teater modern dan melambungkan namanya. Sepanjang hidupnya, ia menulis lebih dari 30 drama teater serta karya untuk televisi, radio, dan film.
Dikutip dari The Guardian, beberapa karya pentingnya antara lain: Travesties (1974), The Real Thing (1982), Arcadia (1993), The Coast of Utopia (2002) dan Leopoldstadt (2020).
Stoppard juga dikenal sebagai penulis skenario adaptasi. Karyanya untuk Shakespeare in Love (1998) memenangkan Academy Award dan semakin mengukuhkan reputasinya di dunia perfilman.
Selama kariernya, ia meraih banyak penghargaan di Inggris dan Amerika. Ia dianugerahi gelar bangsawan pada 1997 dan dinobatkan sebagai dramawan hidup terbesar oleh London Evening Standard Theatre Awards pada 2014. Di mata publik, Tom juga dikenal lewat keterlibatannya dalam waralaba besar seperti Indiana Jones dan Star Wars.
Karya-karya Stoppard terkenal dengan perpaduan kecerdasan intelektual, humor, referensi sejarah-sastra, serta kemampuannya membungkus tema kompleks dalam narasi manusia yang dekat dengan penonton.
Kabar wafatnya Tom Stoppard memicu gelombang penghormatan dari komunitas teater, film, hingga literatur dunia. Sejumlah teater di London dijadwalkan meredupkan lampu panggung sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya.(*)
Reporter: Juliana Belence
