Rabu, 22 Mei 2024

Tips Atasi Saraf Terjepit Ala Dosen Fisioterapi UMM

Berita Terkait

Tips Merawat dan Memberi Perintah Anjing Pudel

Tips Mengatasi Anak yang Mengalami Tantrum

Ilustrasi nyeri pinggang karena saraf kejepit. (Istimewa)

batampos – Tips mengatasi saraf terjepit ala Dosen Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Siti Ainun Ma’rufa bisa menjadi salah satu solusi bagi Anda yang sedang mengalaminya.

Ainun memberikan tips terapi pertama bagaimana mengatasi saraf terjepit atau sering dikenal dengan kecetit. Dia menjelaskan, ada latihan fisioterapi yang bisa dilakukan penderita sarat kejepit. Latihan itu bisa meringankan rasa nyeri, yakni dengan melakukan stretching (peregangan) dan strengthening (penguatan).

”Gerakan tersebut meliputi knee to chest stretching (peregangan lutut ke dada), glutes bridging, pelvic tilting (memiringkan panggul), leg raise (mengangkat kaki), dan lain-lain. Selain itu, kompres air dingin dan hangat juga bisa diberikan pada area nyeri yang dirasakan,” kata Siti Ainun Ma’rufa seperti dilansir dari Antara.

Baca Juga:Suzuki Catat Sudah Jual 80 Juta Mobil di Seluruh Dunia, Produksi di 10 Negara

Siti Ainun Ma’rufa menjelaskan, dalam beberapa kasus, penderita saraf terjepit harus menjalani rangkaian pemeriksaan penunjang terlebih dahulu untuk mendapatkan diagnosis. Terapi farmakologi juga biasa diberikan pada pasien untuk mengurangi gejala nyeri.

”Akan tetapi, pada kondisi yang lebih parah, ditemukan penjepitan saraf, karena hernia nucleus pulposus atau spondilolistesis yang menyebabkan kondisi tulang belakang bergeser dari posisi normal. Tindakan operasi akan diberikan pada kasus ini,” ujar Siti Ainun Ma’rufa.

Saraf terjepit merupakan tekanan pada saraf oleh jaringan-jaringan sekitar, misalnya oleh otot, tulang, atau ligamen. Hal itu umum terjadi pada persarafan tulang belakang. Efeknya bisa didapati nyeri menjalar di leher, lengan, pinggang, kaki, dan beberapa tempat lain.

Menurut Siti Ainun, penyebab saraf terjepit adalah pertambahan usia yang membuat kelenturan tulang belakang berkurang. Seiring bertambahnya usia, bantalan tulang belakang juga bisa menipis, hal ini bisa berisiko menyebabkan gesekan antar-tulang hingga menjepit saraf.

”Penyebab lain, yakni trauma seperti kecelakaan, cedera olahraga, dan terjatuh. Selain itu, kondisi obesitas, postur tubuh yang tidak tepat ketika beraktivitas dan melakukan gerakan secara terus-menerus juga menjadi faktor risiko saraf terjepit,” terang Siti Ainun Ma’rufa.

Ainun menyampaikan, gejala yang biasa dirasakan, yakni nyeri menjalar. Namun, tidak jarang diiringi dengan kesemutan, rasa terbakar, mati rasa, hingga lemahnya otot di bagian tubuh yang mengalami saraf terjepit.

”Kondisi saraf terjepit bisa terjadi berulang. Menjaga gaya hidup sehat mutlak harus dilakukan. Sangat dianjurkan pada penderita untuk membiasakan duduk dan berdiri dengan postur yang baik, melakukan pola hidup sehat untuk menjaga berat badan ideal, serta olahraga dengan teratur,” kata Siti Ainun Ma’rufa.(*)

Reporter: jpgroup

Update