Sabtu, 17 Januari 2026

Tak Selalu Positif, Ini 9 Dampak Psikologis Akibat Terlalu Sering Dipuji

Berita Terkait

Ilustrasi seseorang yang diberi pujian. (Freepik)

batampos – Memberi pujian sering dianggap sebagai bentuk dukungan terbaik dalam proses tumbuh kembang seseorang.

Anak yang sering dipuji kerap dipandang akan tumbuh lebih percaya diri, berani, dan memiliki mental yang kuat.

Namun, di balik anggapan tersebut, psikologi justru menemukan fakta yang tidak banyak disadari orang.

Pujian yang diberikan secara berlebihan dan tanpa keseimbangan ternyata tidak selalu membawa dampak positif.

Alih-alih membangun mental yang sehat, pujian yang terus-menerus sejak kecil dapat membentuk pola pikir dan emosi yang mudah rapuh hingga seseorang dewasa.

Inilah sebabnya mengapa pujian, meskipun terdengar baik, perlu diberikan dengan cara yang tepat.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Sabtu (17/1), berikut merupakan 9 dampak psikologis akibat terlalu sering dipuji.

1. Sulit menerima kritik

Orang yang sejak kecil terlalu sering mendapat pujian biasanya tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya selalu benar dan bernilai tinggi.

Ketika dewasa dan menerima kritik, mereka kerap merasakannya sebagai serangan pribadi, bukan sebagai masukan yang membangun.

Bahkan kritik yang disampaikan dengan niat baik pun dapat memicu perasaan tidak aman, tersinggung, ataupun defensif.

Hal ini terjadi karena pujian yang mereka terima dahulu lebih menekankan pada “siapa dirinya”, bukan pada usaha atau prosesnya.

Akibatnya, saat ada kekurangan yang disorot, mereka merasa identitasnya dipertanyakan.

Lama-kelamaan, mereka cenderung menghindari kritik dan hanya ingin berada di lingkungan yang selalu membenarkan, sehingga peluang untuk berkembang menjadi semakin terbatas.

2. Harga diri sangat bergantung pada pencapaian

Sejak kecil, mereka belajar bahwa pujian datang bersamaan dengan keberhasilan. Pola ini membentuk cara pandang bahwa nilai diri hanya ada ketika mereka berprestasi.

Saat dewasa, pencapaian seperti jabatan, penghasilan, produktivitas, atau pengakuan menjadi tolok ukur utama dari harga diri mereka. Ketika berhasil, mereka merasa percaya diri dan berharga.

Namun ketika gagal atau sedang berada di fase stagnan, rasa percaya diri itu langsung menurun drastis.

Kondisi ini membuat hidup terasa penuh tekanan, karena ketenangan batin seolah hanya bisa dicapai jika terus mencapai sesuatu yang lebih tinggi.

3. Takut gagal dan enggan mencoba hal baru

Pujian yang berlebihan sering kali menumbuhkan ketakutan tersembunyi terhadap kegagalan. Mereka terbiasa dipuji karena berhasil, sehingga kegagalan dipandang sebagai ancaman terhadap citra diri yang telah lama mereka jaga.

Mencoba hal baru akan terasa menakutkan karena ada kemungkinan tidak langsung berhasil atau terlihat tidak kompeten.

Akibatnya, mereka lebih memilih jalan aman dan menghindari tantangan yang tidak pasti.

Dari luar, sikap ini sering disalahartikan sebagai kurang ambisi atau suka menunda-nunda. Padahal, di balik itu semua terdapat rasa takut untuk kehilangan penerimaan dan pengakuan.

4. Sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain

Banyak orang yang tumbuh dengan pujian yang berlebihan cenderung akan memiliki kebutuhan besar akan validasi eksternal.

Pujian, persetujuan, dan pengakuan dari orang lain menjadi sumber rasa aman dan percaya diri bagi mereka.

Ketika validasi tersebut tidak didapatkannya, mereka mudah merasa ragu, cemas, atau tidak berharga, meskipun sebenarnya tidak terjadi masalah apa pun.

Hal ini disebabkan oleh kebiasaan sejak kecil yang mengajarkan bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh reaksi orang lain.

Akibatnya, mereka sulit merasa yakin tanpa dukungan eksternal dan jarang benar-benar percaya pada penilaian diri sendiri.

5. Kesulitan membangun motivasi dari dalam diri

Karena terbiasa diberi pujian atas setiap usaha, motivasi mereka cenderung bergantung pada imbalan dari luar.

Saat dewasa, hal ini terlihat ketika mereka sulit mempertahankan semangat jika tidak ada yang memperhatikan atau menghargai pekerjaannya.

Proyek yang tidak mendapat pengakuan sering kali terasa melelahkan dan cepat ditinggalkan.

Ini bukan karena mereka kurang disiplin atau kurangnya minat, melainkan karena mereka tidak terbiasa merasakan kepuasan dari proses itu sendiri. Mereka perlu belajar kembali bahwa melakukan sesuatu dapat bernilai, meskipun tidak disertai dengan pujian.

6. Merasa gelisah ketika tidak sedang berprestasi

Bagi mereka yang terbiasa dipuji karena keunggulan, kondisi biasa saja sering kali terasa tidak nyaman. Saat sedang beristirahat atau tidak produktif, muncul rasa bersalah dan kegelisahan.

Ada dorongan batin yang terus mengatakan bahwa mereka seharusnya melakukan lebih banyak hal. Bahkan waktu luang terasa seperti sesuatu yang tidak pantas untuk dinikmati.

Akibatnya, sistem pikiran dan emosi mereka jarang sekali benar-benar rileks. Mereka terus berada dalam mode “membuktikan diri”, sehingga kelelahan mental pun sulit untuk dihindari.

7. Sulit membangun hubungan yang benar-benar autentik

Dalam hubungan sosial, pujian yang berlebihan sejak kecil dapat membentuk kebiasaan untuk selalu tampil sempurna.

Mereka cenderung menunjukkan sisi diri mereka yang terlihat baik, kuat, dan mengesankan, sambil menyembunyikan kelemahan mereka.

Kerentanan terasa menakutkan karena dianggap dapat merusak citra diri mereka. Akibatnya, hubungan yang terjalin dengan orang lain sering kali terasa sopan dan harmonis di permukaan, tetapi kurang akan kedalaman emosional.

Padahal, kedekatan yang sejati hanya bisa tumbuh ketika seseorang berani menunjukkan sisi dirinya apa adanya.

8. Mengalami sindrom impostor

Meskipun terlihat percaya diri dan sukses, banyak dari mereka diam-diam merasa dirinya tidak sepenuhnya pantas atas keberhasilan yang diraih.

Mereka takut suatu hari orang lain menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak sebaik yang terlihat.

Hal ini memicu dorongan untuk terus membuktikan diri tanpa henti. Ironisnya, semakin banyak pencapaian yang diraih, semakin kuat pula ketakutan akan kehilangan pengakuan tersebut.

9. Kesulitan mengenali jati diri tanpa pujian

Ketika pujian dan pengakuan tidak lagi didapatkannya, banyak dari mereka merasa kosong dan bingung. Mereka sulit mendefinisikan diri sendiri di luar pencapaian dan penilaian orang lain.

Padahal, nilai diri seseorang tidak lagi bergantung pada prestasi atau pujian, melainkan pada penerimaan terhadap diri sendiri. (*)

ReporterJPGroup

Update