Sabtu, 3 Januari 2026

Superflu Ramai Dibicarakan Karena Penyebarannya Cepat

Berita Terkait

Flu bisa menyerang kesehatan jika tubuh tidak fit saat musim pancaroba. (Istimewa)

batampos – Istilah superflu belakangan ramai dibicarakan dan sempat memicu kepanikan di masyarakat. Padahal istilah itu sejatinya bukan terminologi medis. Istilah ini muncul karena peningkatan kasus influenza dengan tingkat penularan yang cepat, sehingga memunculkan label superflu di ruang publik.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Nastiti Kaswandani, menegaskan bahwa dalam dunia medis tidak dikenal istilah superflu.

“Kata-kata superflu itu sempat menimbulkan kepanikan karena ini istilah yang sebetulnya tidak ada di terminologi medis. Dalam medis, kita mengenalnya sebagai influenza, yaitu infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/12).

Menurut dr. Nastiti, influenza sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, seperti influenza A, B, dan C. Namun, yang paling sering menyebabkan kasus dengan gejala berat adalah influenza A, termasuk subtipe H3N2. Influenza jenis inilah yang kerap disebut superflu.

Salah satu alasan munculnya istilah superflu, kata dr. Nastiti adalah karena penularan influenza yang tergolong cepat. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke dua hingga tiga orang di sekitarnya. Bahkan, pada beberapa kasus, penularan bisa terjadi sebelum penderitanya menunjukkan gejala.

“Orang dewasa sering kali menularkan sebelum dia bergejala, sehingga tidak sadar sudah menularkan ke orang lain, termasuk anak-anak yang risikonya lebih tinggi,” kata dr. Nastiti.

Ia menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap menyebut semua demam, batuk, dan pilek sebagai flu. Padahal, tidak semua kondisi tersebut adalah influenza.

“Kalau gejalanya ringan dan cepat sembuh, itu biasanya selesma atau common cold, yang berbeda dengan influenza. Influenza bisa lebih berat, dengan demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, bahkan bisa berkembang menjadi pneumonia,” jelasnya.

Dalam kasus yang lebih parah, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti radang paru akut, gagal ginjal, gagal hati, hingga mengancam nyawa. Karena itu, istilah “flu berat” yang sering digunakan masyarakat sebenarnya bisa merujuk pada infeksi influenza, bukan sekadar selesma biasa.

Terkait isu superflu, dr. Nastiti menjelaskan bahwa yang disinyalir menjadi perhatian para ahli adalah varian influenza A subtipe H3N2 dengan subgrade K. Dari hasil genome sequencing di Amerika Serikat, varian ini ditemukan cukup dominan pada musim influenza terbaru.

“Sebenarnya ini tetap bagian dari H3N2. Disebut-sebut karena evolusinya tinggi, mudah menular, dan berpotensi menyebabkan lonjakan kasus,” ungkapnya.

Namun, ia menekankan bahwa varian tersebut tidak bisa dibedakan hanya dari gejala klinis.

“Secara klinis, dokter tidak bisa membedakan ini varian apa. Influenza bisa dideteksi dengan rapid test atau swab, tetapi untuk mengetahui subtipe seperti H3N2 atau subgrade K, harus dilakukan genome sequencing di laboratorium yang canggih,” jelas dr. Nastiti.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik dengan istilah superflu, namun tetap waspada terhadap influenza. Pencegahan tetap penting, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta.

“Yang terpenting adalah memahami bahwa ini influenza yang penularannya cepat, bukan penyakit baru dengan istilah medis baru,” tutupnya. (*)

ReporterJPGroup

Update