Minggu, 11 Januari 2026

Suka Mencari Gejala Penyakit di Google? Ini 10 Pola Perilaku Anda Menurut Psikologi

Berita Terkait

Ilustrasi: Mencari gejala penyakit di Google. (Hermina hospitals)

batampos – Saat sakit atau punya gejala kurang sehat, Google sering kali menjadi “dokter pertama” sebelum kita benar-benar bertemu tenaga medis.

Sedikit pusing, jantung berdebar, atau nyeri yang sulit dijelaskan—semuanya langsung diketik di kolom pencarian.

Awalnya mungkin terasa wajar. Namun, ketika kebiasaan ini dilakukan berulang kali, secara intens, dan disertai rasa cemas berlebihan, psikologi melihatnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar rasa ingin tahu.

Fenomena ini dikenal sebagai cyberchondria, yaitu kecenderungan mencari informasi kesehatan secara berlebihan di internet hingga memicu kecemasan.

Menariknya, di balik kebiasaan “googling gejala” yang obsesif, sering tersembunyi pola perilaku dan kondisi psikologis tertentu.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (10/1), jika Anda merasa sering terjebak dalam siklus ini, bisa jadi Anda menunjukkan beberapa perilaku berikut.

1. Selalu Mengantisipasi Skenario Terburuk

Saat membaca satu gejala ringan, pikiran Anda langsung meloncat ke kemungkinan penyakit paling serius.

Sakit kepala bukan lagi sekadar kurang tidur, tetapi langsung diasosiasikan dengan tumor otak atau gangguan saraf berat.

Menurut psikologi, pola ini berkaitan dengan catastrophic thinking, yaitu kecenderungan memperbesar ancaman meski buktinya minim.

2. Sulit Merasa Tenang Meski Sudah Mendapat Jawaban

Alih-alih merasa lega setelah membaca penjelasan medis, Anda justru semakin gelisah. Satu artikel tidak pernah cukup.

Anda membuka forum, blog, jurnal, hingga video, berharap menemukan jawaban yang benar-benar menenangkan—namun ketenangan itu tak kunjung datang.

3. Memiliki Kebutuhan Tinggi untuk Mengontrol Ketidakpastian

Bagi sebagian orang, ketidakpastian adalah hal yang paling menakutkan. Dengan mencari gejala secara obsesif, Anda berusaha mengambil alih kendali atas tubuh dan masa depan Anda.

Sayangnya, internet sering kali justru memperbesar ketidakpastian itu sendiri.

4. Terlalu Peka terhadap Sensasi Tubuh

Setelah membaca daftar gejala, Anda mulai “merasakan” hal-hal yang sebelumnya tidak disadari. Detak jantung, tarikan napas, atau sensasi kecil di tubuh menjadi fokus utama.

Psikologi menyebut ini sebagai somatic hypervigilance, yaitu kewaspadaan berlebihan terhadap sinyal tubuh.

5. Membandingkan Diri dengan Pengalaman Orang Lain

Anda sering membaca kisah pasien di forum dan merasa pengalaman mereka sangat mirip dengan kondisi Anda. Padahal, setiap tubuh berbeda.

Kebiasaan membandingkan ini bisa memperkuat keyakinan bahwa Anda juga mengalami hal yang sama, meski belum tentu benar.

6. Mencari Validasi atas Ketakutan yang Sudah Ada

Tanpa disadari, Anda lebih tertarik pada artikel atau cerita yang mendukung kekhawatiran Anda, bukan yang menenangkannya.

Ini disebut confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari informasi yang menguatkan keyakinan awal, termasuk ketakutan.

7. Sulit Mempercayai Penjelasan Profesional

Ironisnya, meski terkesan rasional dan berbasis data, kebiasaan ini justru bisa membuat Anda meragukan dokter.

Ketika hasil pemeriksaan menyatakan “normal”, Anda masih merasa ada yang salah karena apa yang Anda baca di internet terasa lebih “meyakinkan”.

8. Mengalami Lonjakan Kecemasan setelah Browsing

Alih-alih membantu, aktivitas mencari gejala justru membuat detak jantung meningkat, sulit tidur, dan pikiran terus berputar.

Psikologi melihat ini sebagai lingkaran kecemasan: cemas → mencari → semakin cemas → mencari lagi.

9. Menggunakan Internet sebagai Pelarian Emosional

Bagi sebagian orang, kebiasaan ini bukan semata soal kesehatan fisik, melainkan cara mengalihkan perhatian dari stres lain—masalah pekerjaan, hubungan, atau tekanan hidup.

Fokus pada gejala tubuh memberi “alasan” konkret atas rasa tidak nyaman yang sebenarnya bersifat emosional.

10. Merasa Aman Sesaat, Lalu Kembali Mengulang Pola yang Sama

Setelah berjam-jam mencari, Anda mungkin merasa sedikit lega. Namun efeknya hanya sementara. Keesokan hari, atau saat sensasi kecil muncul lagi, Anda kembali ke Google.

Pola ini menyerupai perilaku kompulsif yang memberi rasa aman sesaat, tetapi memperkuat kecemasan jangka panjang.

Kesimpulan: Antara Kesadaran dan Perangkap Digital

Mencari informasi kesehatan di internet bukanlah hal yang salah. Namun, ketika dilakukan secara obsesif dan disertai kecemasan berlebihan, kebiasaan ini bisa menjadi cermin kondisi psikologis yang lebih dalam.

Psikologi mengajarkan bahwa rasa aman sejati bukan berasal dari mengetahui semua kemungkinan terburuk, melainkan dari kemampuan menerima ketidakpastian dengan lebih sehat.

Jika Anda merasa terjebak dalam pola ini, langkah pertama bukan berhenti total mencari informasi, melainkan menyadari motif di baliknya. Apakah Anda sedang cemas? Merasa kehilangan kendali? (*)

ReporterJPGroup

Update