Kamis, 22 Januari 2026

Setiap Tahun Indonesia Butuh Ratusan Juta Alat Suntik, Ini Kata Kemenkes

Berita Terkait

Ilustrasi alat suntik. F. Dok. JawaPos.com

batampos – Kebutuhan alat suntik di Indonesia mencapai ratusan juta unit setiap tahun, seiring tingginya penggunaan di berbagai layanan kesehatan, mulai dari program imunisasi hingga pemeriksaan kesehatan rutin. Kondisi tersebut mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional melalui optimalisasi penggunaan produk dalam negeri yang berdaya saing global.

Ketua Tim Kerja Peningkatan dan Fasilitas TKDN Alat Kesehatan dan Penggunaan Alat Kesehatan Dalam Negeri, Direktorat Ketahanan Alat Kesehatan Kemenkes, Zulfikar Biruni, menjelaskan kebutuhan jarum suntik nasional bersifat dinamis dan terfragmentasi, tergantung jenis layanan kesehatan.

“Untuk kebutuhan alat suntik di Indonesia setiap tahun berbeda-beda dan sangat terfragmentasi. Misalnya untuk program imunisasi, kebutuhannya relatif kecil dari sisi ukuran, seperti 3 ml dan 5 ml, tetapi volumenya bisa mencapai sekitar 120 juta unit per tahun karena program imunisasi sudah berjalan dengan baik,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (21/1).

Baca Juga: Perlu Diantisipasi Sejak Dini, Berikut Masalah Kesehatan yang Kerap Muncul Saat Puasa

Selain imunisasi, kebutuhan jarum suntik juga meningkat signifikan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), khususnya untuk pengambilan sampel darah.

“Untuk pelayanan cek kesehatan gratis, kebutuhannya juga cukup besar. Kalau dilihat dari cakupan CKG, kebutuhannya bisa mencapai sekitar 50 juta unit per tahun, di luar layanan kesehatan rutin lainnya,” jelas Zulfikar.

Sejalan dengan upaya tersebut, Terumo Corporation bersama PT Oneject Indonesia secara resmi meluncurkan T1 Syringe, jarum suntik halal pertama di Indonesia yang diproduksi secara lokal dengan teknologi sterilisasi Electron Beam (E-Beam). Peluncuran ini menjadi tonggak penting dalam penguatan industri alat kesehatan nasional sekaligus mempertegas posisi Indonesia dalam rantai pasok global perangkat medis.

T1 Syringe merupakan hasil kolaborasi Terumo Corporation, perusahaan teknologi medis dengan pengalaman lebih dari 100 tahun, dan PT Oneject Indonesia sebagai pelopor produsen Auto Disable Syringe (ADS) di Tanah Air. Produk ini dirancang untuk mendukung kebutuhan operasional tenaga medis sehari-hari dengan tetap memenuhi standar kualitas internasional dan prinsip kehalalan.

Baca Juga: Simak 4 Bahaya Terlalu Sering Konsumsi Minuman Manis bagi Kesehatan

“Melalui T1 Syringe, kami menghadirkan tiga komitmen utama, yakni halal, teknologi sterilisasi E-Beam, dan kepercayaan global. Kami percaya layanan kesehatan harus inklusif, aman, dan berkelanjutan tanpa mengorbankan mutu internasional,” ujar Toshiyuki Akaike.

Teknologi sterilisasi Electron Beam (E-Beam) yang digunakan pada T1 Syringe dinilai lebih ramah lingkungan karena bebas bahan kimia, tidak meninggalkan residu, serta mampu memastikan produk steril dan aman sejak keluar dari fasilitas produksi.

President Director PT Oneject Indonesia, Jahja Tear Tjahjana, menegaskan kolaborasi ini mencerminkan integrasi antara kehalalan, keselamatan pasien, keberlanjutan lingkungan, dan kualitas global dalam satu produk medis esensial. Ia menyebut hal tersebut sebagai bukti meningkatnya kepercayaan dunia terhadap manufaktur alat kesehatan dalam negeri.

T1 Syringe juga tercatat sebagai jarum suntik halal pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi halal untuk proses manufaktur lokal. Sertifikasi ini memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi pasien, sekaligus mencerminkan penghormatan terhadap nilai dan keberagaman masyarakat.

Baca Juga: 6 Shio Paling Berpeluang Dapat Hoki 21 Januari 2026

Direktur Pengawasan Alat Kesehatan Kemenkes RI, Dra. Eka Purnamasari, Apt., M.K.M., menilai peluncuran T1 Syringe bukan sekadar momentum bisnis.

“Inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian industri medis nasional sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap produk kesehatan buatan Indonesia,” ujarnya. (*)

ReporterJP GROUP

Update