Jumat, 19 Juli 2024

Perempuan Biasanya Menunggu Benar-benar Sakit Baru Berobat, Insiden Kanker Payudara & Serviks Meningkat

Berita Terkait

llustrasi pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) adalah cara termudah untuk mendeteksi kelainan pada ukuran, tekstur, serta bentuk payudara atau deteksi dini kanker payudara. (Istimewa)

batampos – Pimpinan kesehatan perempuan di Roche untuk Asia Pasifik, Karan Kampani berpendapat para perempuan biasanya menunggu sampai benar-benar sakit baru mengakses sistem kesehatan dan menilai bahwa cara itu menimbulkan masalah, dikutip dari Antara (22/8).

Baca Juga:Film Blue Beetle Geser Barbie meski Capaian Tak Sesuai Prediksi

“Menurut saya ini merupakan bagian dari masalah karena sudah terlambat,” ujar Karan dalam diskusi “Impact and opportunity: the case for investing in women’s cancers in Asia Pacific”, dikutip dari Antara, Selasa (22/8).

Untuk itulah, Karan memandang pentingnya pencegahan dan skrining dini kanker serviks dan payudara, sembari menghilangkan semua hambatan para perempuan mengakses layanan kesehatan.

“Itulah pentingnya pencegahan dan skrining dini. Jika kita bisa memindahkannya ke depan dengan cara menghilangkan semua hambatan maka ini akan membantu perempuan secara keseluruhan,” kata Karan menjelaskan.

Dia juga menyarankan perlunya melibatkan para perempuan dalam program pencegahan dan skrining kanker. Mereka sebagai sasaran harus sadar perlunya melakukan pencegahan dan skrining.

“Ini hanya awal dan diharapkan prosesnya dapat dipersingkat melalui strategi nasional, akan ada strategi pelacakan nasional dan yang penting melibatkan para perempuan untuk mengangkat atau menghilangkan hambatan yang dihadapi para perempuan,” kata Karan, dikutip dari Antara (22/8) dilansir jawapos.com.

Dalam diskusi yang sama pimpinan Jhpiego India Dr. Somesh Kumar menuturkan dalam skrining kanker diperlukan kecakapan perawat dan tenaga kesehatan terkait. Oleh karena itu, dia mendorong peningkatan kapabilitas perawat dan pekerja kesehatannya atau siapapun yang melakukan skrining untuk kanker payudara dan serviks.

“Agar mereka bisa melakukan skrining dengan tepat,” ujar Kumar.

Laporan berjudul “Impact and opportunity: the case for investing in women’s cancers in Asia Pacific” menunjukkan bahwa di Asia kejadian kanker payudara diperkirakan meningkat sebesar 20,9 persen antara tahun 2020 dan 2030 dan kematian sebesar 27,8 persen. Sementara insiden kanker serviks diperkirakan meningkat sebesar 18,9 persen dan kematian sebesar 24,9 persen pada periode yang sama.

Laporan itu juga memperlihatkan para perempuan di negara berpendapatan rendah dan menengah memiliki kesadaran rendah mengakses layanan skrining, diagnosis, pengobatan, dan perawatan yang berkualitas, secara tepat waktu.

Area Head Roche Pharmaceuticals Asia Pacific Ahmed Elhusseiny mengatakan temuan dalam laporan itu menunjukkan bahwa negara-negara harus memprioritaskan kesehatan perempuan dengan memperkuat kemauan politik, menetapkan rencana dan tindakan yang kuat, meningkatkan penapisan dan upaya pencegahan kanker payudara dan serviks.

Dia juga memandang pentingnya berbagai pihak bersama-sama menjadikan peningkatan kesadaran sebagai bagian dari upaya komprehensif dan pendekatan yang berpusat pada pasien, untuk mencapai target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam mengeliminasi kanker serviks dan payudara. (*)

Reporter: jpgroup

 

Update