Senin, 26 September 2022

Panduan Sahur dan Berbuka untuk Pasien Diabetes

Berita Terkait

Ilustrasi diabetes. (Istimewa)

batampos – Panduan sahur dan berbuka untuk pasien diabetes harus diperhatikan. Jangan sampai gula darah melonjak. Sehingga rutinitas diet sehat untuk mengontrol kadar gula darah harus diperhatikan secara ketat.

Manajemen diabetes seperti mengatur jumlah, jenis, dan jam makan.saat puasa memang tak mudah. Sehingga pasien dengan penyakit diabetes wajib menerapkan disiplin ketat bila ingin berpuasa Ramadhan. Yang paling tepat adalah berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum berpuasa.

Beberapa cara bisa jadi panduan manajemen diabetes saat puasa Ramadan. Seperti dilansir dari Health Site, Rabu (13/4).

1. Wajib Pantau Gula Darah

Chairman dan Managing Director Jothydev’s Diabetes Research Centre Jothydev Kesavadev mengatakan, diabetes adalah suatu kondisi yang memerlukan pemantauan rutin dan memastikan bahwa kadar glukosa darah berada dalam kisaran normal. Selama Ramadan, orang-orang dengan diabetes perlu dipantau terus-menerus karena mereka berpuasa selama lebih dari 10–12 jam.

”Pantaulah gula darah sehingga menunjukkan tren glukosa saat berbuka puasa dan saat sahur,” ujar Jothydev Kesavadev.

2. Buka dengan makanan kaya karbohidrat sederhana

Bagi pasien diabetes, mulailah berbuka puasa dengan makanan yang kaya akan karbohidrat sederhana dan dapat diserap dengan cepat oleh tubuh seperti 1–2 buah kurma atau susu. Kemudian diikuti dengan karbohidrat kompleks seperti beras merah dan umbi-umbian.

3. Sereal gandumh utuh dan sayuran untuk sahur

Selama sahur, seseorang dapat mengonsumsi sereal gandum utuh dan sayuran. Konsumsi selambat mungkin. Sebagai alternatif, seseorang dapat memilih protein tanpa lemak seperti ikan, tahu, dan kacang-kacangan karena makanan menyediakan energi.

4. Sebelum tidur konsumsi segelas susu atau buah

Terakhir, segelas susu atau buah sebelum tidur akan membantu menjaga kadar gula hingga dini hari. Akan tetapi tetap ingat bahwa semua anjuran ini wajib berkonsultasi dengan dokter, sebab tubuh setiap individu berbeda. (*)

Reporter : JP Group

Update