Kamis, 21 Mei 2026

Nvidia Raup Laba Rp1.030 Triliun Jadi Pemenang Besar Perang AI Dunia

Berita Terkait

Jensen Huang saat berbicara dalam sebuah konferensi, di tengah melonjaknya dominasi Nvidia dalam industri kecerdasan buatan global (The New York Times)

batampos – Gelombang investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global terus bergerak agresif tanpa tanda perlambatan, di tengah persaingan raksasa teknologi seperti Meta, Amazon, Google, dan Microsoft yang membangun pusat data dalam skala besar. Di tengah tren tersebut, Nvidia muncul sebagai perusahaan yang paling diuntungkan.

Perusahaan pembuat chip asal Silicon Valley itu membukukan laba kuartalan sebesar 58,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.030 triliun dengan asumsi kurs Rp17.680 per dolar AS. Angka tersebut melonjak 211 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, pendapatan Nvidia mencapai 81,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.442 triliun, meningkat 85 persen secara tahunan. Sebagai perbandingan, laba kuartalan perusahaan itu tiga tahun lalu masih berada di kisaran 2 miliar dolar AS.

Dilansir dari The New York Times, Kamis (21/5), lonjakan kinerja Nvidia menjadi sinyal kuat bahwa belanja AI perusahaan teknologi global masih terus meningkat.

Nvidia bahkan memperkirakan pengeluaran dunia untuk infrastruktur AI dapat mencapai 3 triliun hingga 4 triliun dolar AS pada 2030, naik dari sekitar 1 triliun dolar AS saat ini.

Kondisi tersebut memperkuat posisi Nvidia sebagai pemasok utama chip untuk pengembangan model AI generatif dan pusat data modern.

Chief Executive Officer (CEO) Nvidia, Jensen Huang, mengatakan percepatan pembangunan pusat data terjadi karena AI kini mulai memberikan nilai ekonomi nyata bagi perusahaan.

“AI sekarang sudah mampu melakukan pekerjaan yang produktif dan bernilai,” ujarnya dalam konferensi bersama analis Wall Street.

Ia menambahkan, lonjakan permintaan terjadi sangat cepat sehingga perusahaan harus mempersiapkan kapasitas produksi lebih awal.

“Permintaannya melonjak sangat cepat. Kami membangun kapasitas sebelum momen ini terjadi sehingga ketika AI agentik hadir, Nvidia sudah siap. Dan sekarang, momen itu telah tiba,” kata Huang.

Dalam satu dekade terakhir, Nvidia bertransformasi dari produsen chip gim menjadi penguasa lebih dari 90 persen pasar chip AI kelas atas. Posisi tersebut semakin kuat seiring belanja besar perusahaan teknologi global untuk pembangunan infrastruktur AI.

Belanja masif Google, Amazon, Meta, dan Microsoft disebut telah mencapai sedikitnya 1 triliun dolar AS untuk pengembangan ekosistem AI. Sebagian besar pusat data tersebut menggunakan chip Nvidia.

Segmen pusat data kini menjadi motor utama bisnis perusahaan, dengan pendapatan naik 92 persen menjadi 75 miliar dolar AS pada kuartal terakhir.

Dampak ledakan AI juga mulai dirasakan industri semikonduktor secara lebih luas. AMD dan Intel mencatat peningkatan penjualan chip server yang digunakan untuk sebagian kebutuhan AI, sementara sejumlah perusahaan baru juga mulai masuk ke pasar.

Perusahaan rintisan Cerebras bahkan telah melantai di bursa bulan ini, sementara Google mulai menjual chip AI buatannya sendiri, Tensor Processing Unit (TPU), kepada perusahaan lain.

Manajer portofolio Sand Capital, Daniel Pilling, menilai tingginya permintaan membuat perusahaan teknologi bersaing ketat untuk mendapatkan pasokan chip.

“Jika Anda menjalankan bisnis AI, Anda akan mengambil chip apa pun yang bisa didapat karena permintaannya jauh lebih besar dibanding kapasitas yang tersedia,” ujarnya.

Selain memperluas produksi, Nvidia juga memperkuat kendali rantai pasok industri AI global dengan menggelontorkan 95 miliar dolar AS untuk mengamankan pasokan memori, serat optik, dan komponen penting superkomputer AI.

Perusahaan itu juga berinvestasi pada Anthropic, salah satu perusahaan AI dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Namun, Nvidia masih menghadapi tekanan geopolitik, terutama terkait pembatasan ekspor chip ke Tiongkok oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Meski sempat mendapat izin menjual chip kelas menengah, pemerintah Tiongkok disebut mendorong penggunaan produk lokal seperti Huawei.

CEO Nvidia Jensen Huang tetap optimistis terhadap prospek pasar Tiongkok.

“Pemerintah Tiongkok harus menentukan sejauh mana mereka ingin melindungi industri domestiknya. Namun, saya melihat pasar pada akhirnya akan kembali terbuka,” ujarnya kepada Bloomberg TV. (*)

Update