
batampos – Nissan Motor Co. masih mencatat kerugian besar pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, namun mulai mengklaim jalur pemulihan sudah terbuka melalui strategi restrukturisasi agresif.
Mengutip laporan Kyodo News, Kamis (14/5), Nissan membukukan rugi bersih sebesar 533,10 miliar yen atau sekitar Rp59,2 triliun. Ini menjadi tahun kedua berturut-turut perusahaan berada di zona merah.
Kerugian tersebut terutama dipicu oleh biaya restrukturisasi besar-besaran yang tengah dijalankan perusahaan.
Meski merugi, Nissan masih mencatat laba operasional sebesar 58,01 miliar yen (sekitar Rp6,4 triliun), namun angka itu turun 16,9 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pendapatan perusahaan juga ikut tertekan dengan penurunan 4,9 persen menjadi 12,01 triliun yen atau sekitar Rp1.333 triliun.
Di pasar Amerika Serikat, kinerja Nissan melemah dengan penjualan turun 3,4 persen menjadi 906 ribu unit. Secara global, penjualan juga turun 5,8 persen menjadi 3,15 juta unit, sementara di Jepang anjlok lebih dalam hingga 13,5 persen menjadi 399 ribu unit.
Untuk menekan biaya, Nissan menjalankan efisiensi besar-besaran, termasuk rencana penutupan tujuh pabrik serta pemangkasan sekitar 20 ribu tenaga kerja secara global hingga 2027.
CEO Nissan, Ivan Espinosa mengatakan proses restrukturisasi berjalan sesuai rencana dan menunjukkan perubahan signifikan dalam setahun terakhir.
Di sisi efisiensi, perusahaan mengklaim telah menghemat biaya hingga 200 miliar yen atau sekitar Rp22,2 triliun.
Namun tekanan eksternal masih membayangi, terutama dari kebijakan tarif impor mobil ke Amerika Serikat yang sempat melonjak hingga 27,5 persen sebelum turun menjadi 15 persen.
Dampak tarif tersebut diperkirakan menggerus laba operasional Nissan hingga 286 miliar yen atau sekitar Rp31,7 triliun.
Meski demikian, Nissan tetap menargetkan kembali mencetak laba pada tahun ini dengan proyeksi laba bersih 20 miliar yen (sekitar Rp2,2 triliun) dan laba operasional 200 miliar yen (sekitar Rp22,2 triliun).
Perusahaan juga mulai mendorong pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk sistem mengemudi otonom yang ditargetkan terpasang di sebagian besar model masa depan.
Di tengah upaya pemulihan, hubungan Nissan dengan Honda Motor Co. masih menjadi sorotan setelah rencana merger sebelumnya tidak berlanjut, meski komunikasi kedua perusahaan disebut belum sepenuhnya terputus. (*)
