
batampos – Mozilla resmi mengumumkan langkah besar dengan menjadikan Firefox sebagai browser AI-first, yakni peramban yang mengintegrasikan kecerdasan buatan langsung ke dalam pengalaman pengguna, bukan sekadar fitur tambahan.
Transformasi ini diumumkan seiring penunjukan Anthony Enzor-DeMeo sebagai CEO Mozilla. Ia mendapat mandat mempercepat inovasi Firefox, khususnya dalam pengembangan fitur berbasis kecerdasan buatan yang terintegrasi secara menyeluruh.
“Firefox akan berkembang menjadi browser berbasis AI selama beberapa tahun ke depan, tetapi tetap memprioritaskan kontrol dan privasi pengguna,” kata Anthony Enzor-DeMeo, dikutip dari The Verge, Kamis (18/12/2025).
Sebelumnya, Enzor-DeMeo menjabat sebagai General Manager Firefox. Kini, ia memimpin seluruh organisasi Mozilla dengan fokus memperkuat peran AI dalam produk-produk perusahaan.
Mozilla telah mulai menguji dan merilis sejumlah fitur AI di Firefox. Salah satunya adalah sidebar AI chatbot, yang memungkinkan pengguna memilih model AI favorit seperti ChatGPT, Claude, Google Gemini, hingga Microsoft Copilot.
Melalui fitur ini, pengguna dapat melakukan berbagai tugas berbasis konten, mulai dari merangkum teks, brainstorming ide, menulis ulang tulisan, hingga membantu pekerjaan lain tanpa perlu meninggalkan tab utama browser.
Mozilla juga tengah mengembangkan jendela cerdas yang mampu memberikan jawaban, ringkasan, dan konteks tambahan langsung di halaman yang sedang dibuka.
Meski demikian, Mozilla menegaskan seluruh fitur AI tersebut bersifat opsional dan tidak dipaksakan kepada pengguna. Perusahaan menempatkan transparansi dan privasi sebagai prioritas utama, termasuk memberi pemahaman jelas tentang bagaimana data digunakan dan apa yang dilakukan AI di dalam browser.
Langkah transformasi ini dilakukan di tengah tantangan besar yang dihadapi Firefox. Sekitar 15 tahun lalu, Firefox sempat menguasai hampir 30 persen pangsa pasar browser. Namun, popularitasnya terus menurun hingga kini hanya sekitar 4,25 persen pangsa pasar browser desktop global.
Sebaliknya, Google Chrome mendominasi pasar dengan pangsa sekitar 75 persen. Mozilla masih bertahan berkat dukungan donasi komunitas serta royalti bernilai jutaan dolar dari Google sebagai mesin pencari default di Firefox.
Perubahan menuju browser AI-first dipandang sebagai strategi Mozilla untuk tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan cara pengguna mengakses internet, dengan menjadikan AI sebagai bagian dari pengalaman digital sehari-hari tanpa mengorbankan kendali pengguna. (*)
