Sabtu, 24 Januari 2026

Mengapa Hinaan Lebih Membekas daripada Pujian? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Berita Terkait

Ilustrasi
Ilustrasi. F. Freepik.

batampos – Satu kalimat hinaan bisa terus teringat bertahun-tahun, jauh lebih lama dibanding pujian. Fenomena ini ternyata bukan sekadar perasaan, melainkan bagian dari cara kerja otak manusia.

Para ilmuwan menyebut kecenderungan ini sebagai negativity bias – kecenderungan otak untuk lebih fokus, menyimpan, dan mengingat pengalaman negatif dibanding pengalaman positif.

“Kritik dan hinaan memicu respons emosional dengan perhatian yang lebih besar. Efeknya bisa lebih kuat dan bertahan lama,” tulis studi yang dilakukan peneliti di Frontiers in Communication tahun 2022, dikutip dari ScienceAlert, Senin (29/9).

Penelitian menunjukkan, ketika seseorang mendengar hinaan, aktivitas otak di bagian depan meningkat lebih tinggi dibanding saat menerima pujian. Aktivitas itu pun tidak cepat menurun meski hinaan didengar berulang kali.

Situasi yang penuh emosi, seperti marah, malu, atau takut, memperkuat proses pengolahan ingatan. Akibatnya, memori negatif menjadi lebih kuat, konsisten, dan mudah muncul kembali.

Ilmu psikologi juga mengenal istilah fading affect bias, yakni kondisi di mana perasaan negatif bisa memudar seiring waktu lebih cepat daripada perasaan positif. Namun, meski emosinya berkurang, isi dari hinaan sering kali tetap tersimpan di ingatan.

Sebaliknya, pujian justru punya efek lebih terbatas. Menurut penelitian lain yang dipublikasikan di PubMed, pujian verbal memang bisa meningkatkan daya ingat dalam kondisi tertentu, tetapi sensitivitas otak terhadap input negatif jauh lebih besar.

Hinaan cenderung lebih membekas karena memicu emosi negatif. Namun, dengan memberi ruang lebih besar pada hal-hal positif, seseorang bisa menjaga kesehatan mental sekaligus membatasi dampak buruk dari komentar negatif.

Reporter: Juliana Belence

Update