Kamis, 22 Januari 2026

Media Sosial Bikin Percaya Diri Anjlok? Ini Cara Bijak Mengelola Dampaknya

Berita Terkait

Ilustrasi kecanduan media sosial pada remaja (Freepik)

batampos – Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk scroll timeline, menonton video, atau membagikan cerita. Namun, di balik manfaatnya, media sosial juga membawa dampak besar terhadap rasa percaya diri, terutama bagi generasi muda yang aktif menggunakannya.

Mengapa hal ini penting? Karena percaya diri merupakan modal utama untuk menjalani kehidupan dengan sehat, baik secara mental maupun sosial. Tanpa kepercayaan diri, seseorang akan mudah merasa minder, membandingkan diri, hingga terjebak dalam lingkaran overthinking.

Konten TikTok dari @raymondchins menjelaskan bahwa salah satu pemicu turunnya rasa percaya diri adalah kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Apa yang kita lihat di media sosial sering kali hanyalah potongan terbaik atau highlight dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh. Hal ini membuat banyak orang merasa hidupnya tertinggal.

Senada dengan itu, akun @kanshue menyoroti bagaimana komentar negatif atau cyberbullying dapat memengaruhi self-esteem. Bagi sebagian orang, satu komentar buruk bisa meninggalkan luka psikologis lebih lama dibanding ratusan komentar positif.

Tak hanya itu, akun @tirtacipeng menambahkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan tanpa manajemen waktu yang sehat juga memicu kecemasan dan stres. Informasi yang terlalu banyak (information overload) membuat otak sulit beristirahat, sehingga emosi mudah goyah.

Melihat fenomena ini, pakar dari Satu Persen – Indonesian Life School melalui kanal YouTube menekankan pentingnya “digital mindfulness”. Artinya, setiap individu harus lebih sadar dan terarah dalam menggunakan media sosial, agar tidak larut dalam kebiasaan yang merugikan mental.

Lalu, bagaimana cara bijak mengelola dampak media sosial terhadap rasa percaya diri? Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

Pertama, lakukan digital detox secara berkala. Batasi waktu layar dan tentukan jadwal khusus untuk beristirahat dari media sosial. Dengan begitu, otak punya ruang untuk kembali tenang.

Kedua, berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Ingatlah bahwa setiap orang punya perjalanan hidup masing-masing. Apa yang terlihat di layar bukan cermin dari kenyataan penuh.

Ketiga, gunakan media sosial dengan tujuan yang jelas. Jika digunakan untuk belajar, berjejaring, atau berbagi hal positif, media sosial bisa menjadi sarana pengembangan diri, bukan penyebab minder.

Selain strategi dasar tersebut, ada langkah tambahan yang bisa memperkuat kepercayaan diri. Misalnya, biasakan melakukan afirmasi positif atau journaling. Menuliskan rasa syukur dan pencapaian kecil setiap hari dapat meningkatkan self-esteem.

Psikolog juga menyarankan untuk membuat tujuan realistis. Terlalu fokus pada pencapaian orang lain sering menurunkan motivasi, sementara target pribadi yang sesuai kemampuan justru menumbuhkan rasa percaya diri secara bertahap.

Lebih jauh, gunakan media sosial sebagai sarana memberi, bukan sekadar menerima. Membagikan pengalaman, ilmu, atau energi positif dapat menciptakan rasa kepuasan tersendiri. Hal ini juga membangun interaksi yang lebih sehat dan bermakna.

Tidak kalah penting, sadari bahwa komentar negatif bukanlah definisi diri kita. Mengembangkan filter mental untuk memilah mana masukan yang konstruktif dan mana yang hanya kritik kosong akan membantu menjaga kestabilan emosi.

Media sosial memiliki dua sisi yang berlawanan, bisa menjadi sumber motivasi dan inspirasi, tetapi juga berpotensi melemahkan rasa percaya diri jika tidak digunakan dengan bijak. Faktor seperti kebiasaan membandingkan diri, komentar negatif, dan penggunaan berlebihan sering kali memicu turunnya self-esteem, khususnya di kalangan generasi muda.

Namun, dampak tersebut dapat diminimalkan dengan langkah-langkah sederhana, seperti melakukan digital detox, berhenti membandingkan diri, menuliskan afirmasi positif, hingga menggunakan media sosial dengan tujuan yang jelas.

Kunci menjaga rasa percaya diri adalah kesadaran dalam mengelola interaksi digital, menempatkan media sosial sesuai porsinya, serta fokus pada pertumbuhan diri ketimbang pencapaian orang lain. (*)

SourceJPGroup

Update