Senin, 2 Februari 2026

Masa Kecil yang Dimanja Berdampak Negatif Pada Perilaku Saat Dewasa

Berita Terkait

Ilustrasi Dua orang sedang berargumen. (Pexels)

batampos – Masa kecil yang terlalu dimanjakan oleh orang tua ternyata berdampak buruk pada anak saat mereka tumbuh dewasa.

Laman Global English Editing, Senin (27/5) menuliskan ada 7 perilaku atau sikap negatif dari orang dewasa yang semasa kecilnya sering kali dimanja orang tuanya.

1. Sulit menerima penolakan

Hal ini terjadi bisa terjadi karena dalam perjalanan menuju dewasa, mereka sering kali terlindung dari kekecewaan dan selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Sebagai orang dewasa, hal ini dianggap sebagai ketidakmampuan untuk mengatasi situasi ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana.

Orang-orang seperti itu biasanya kesulitan memahami bahwa hidup tidak selalu tentang menang atau mendapatkan apa yang diinginkan.

Baca juga: Mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan, Ini Kiatnya

2. Merasa berhak atau istimewa untuk mendapat segalanya

Perilaku ini bermula dari masa kecil dimana mereka sering diberikan apa pun yang mereka inginkan.

Akibatnya, mereka tumbuh dengan harapan bahwa dunia akan memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.

Mereka mungkin juga kurang menghargai upaya orang lain karena mereka berharap dilayani tanpa imbalan.

Perilaku ini dapat menimbulkan konflik dalam hubungan pribadi dan lingkungan profesional yang mengutamakan kerja sama dan saling menghormati.

3. Kurangnya tanggung jawab

Karena telah dilayani sepanjang masa kecilnya, mereka sering kali tidak memahami konsep mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.

Mereka dapat dengan cepat menyalahkan orang lain atas kesalahan atau kegagalan mereka, serta tidak mengakui peran mereka sendiri dalam hal tersebut.

Baca juga: Saat Lakukan Komunikasi, Pujian atau Perintah untuk Anak Harus Spesifik untuk Mengurangi Kebingungan

Penghindaran tanggung jawab ini dapat merugikan, baik dalam lingkungan pribadi maupun kerja.

Hal ini dapat menghambat pertumbuhan dan pembelajaran mereka, karena mengakui kesalahan adalah kunci pengembangan dan peningkatan pribadi.

4. Obsesi terhadap harta benda

Perilaku ini dapat ditelusuri kembali ke masa kecil ketika mereka secara teratur dihujani hadiah sebagai sarana untuk menenangkan atau menunjukkan cinta.

Akibatnya, mereka mulai menyamakan harta benda dengan kebahagiaan dan kesuksesan.

Obsesi ini sering kali membuat mereka terus mencari barang yang lebih mahal, mencari kepuasan dengan memamerkan kekayaannya, serta mengukur nilainya berdasarkan apa yang dimilikinya.

5. Kesulitan dalam berkompromi

Saat tumbuh dewasa, mereka terbiasa memenuhi keinginannya tanpa mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Bahkan, sering kali menutupi perasaan orang-orang di sekitar mereka.

Keengganan untuk berkompromi dapat membebani hubungan, baik pribadi maupun kerja. Mereka berisiko dicap sebagai orang yang egois atau tidak kooperatif, sehingga menyebabkan keterasingan sosial atau konflik di tempat kerja.

6. Keterampilan manajemen keuangan yang buruk

Karena mereka sering kali diberikan apa yang mereka inginkan tanpa memahami nilai uang, mereka sering kesulitan dalam membuat anggaran dan membuat keputusan keuangan yang baik di masa dewasa.

Mereka mungkin sering mengeluarkan uang terlalu banyak, hidup di luar kemampuan mereka, atau bergantung pada orang lain untuk mendapatkan dukungan finansial.

dimanjarang Tua Perlu Tanamkan Kesadaran Anak untuk Mengelola Keuangan

Mereka mungkin juga kesulitan memahami pentingnya menabung dan berinvestasi untuk masa depan.

Kurangnya literasi keuangan dapat menyebabkan siklus utang hingga ketidakstabilan
keuangan.

7. Kesulitan dalam menjaga hubungan jangka panjang

Perjuangan ini sering kali merupakan akibat dari perilaku-perilaku yang telah dibahas sebelumnya, seperti kurangnya kompromi, merasa berhak atau istimewa, dan ketidakmampuan mengambil tanggung jawab.

Sifat-sifat ini dapat menyulitkan mereka untuk mengembangkan hubungan yang bermakna dan langgeng.

Mereka mungkin memiliki ekspektasi yang tidak realistis dari pasangan atau temannya, kesulitan menyelesaikan konflik, atau gagal mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan orang lain. (*)

Sumber: Jpgroup

Update