Jumat, 12 Agustus 2022

Makan di Ketinggian 50 Meter, Lounge In The Sky

Berita Terkait

 

batampos.co.id – Di DKI Jakarta muncul tempat kuliner yan tak biasa. Makan di ketinggian 50 meter. Lounge In The Sky, namanya.

Sambil makan bisa menikmati pemandangan indah langit-langit ibukota. Dengan konsep Semanggi Butterfly, platform melayang ini akan mengakomodasi hingga 32 orang tamu pada saat bersamaan yang akan menikmati hidangan four course meal yang dihidangkan oleh Boca Rica Tapas Bar & Lounge selama satu jam.

Atraksi dan pengalaman tersebut menantang adrenalin untuk menawarkan konsep industri kuliner dan pariwisata di Indonesia yang perlahan kian pulih dari hantaman pandemi. Untuk memastikan jarak sosial antara tamu, tamu yang melakukan reservasi akan mendapatkan meja pribadi.

Awal mula konsep ini beroperasi pada bulan Mei 2006 di Brussels, Belgia. Semuanya menjadi pengalaman berkuliner yang unik dan menantang.

Bagaimana Keamanannya?

Para tamu tak usah khawatir, sebab meski makan di ketinggian, pihak resto menjamin menggunakan standar keselamatan yang sangat tinggi. Selama di atas, tamu akan menggunakan sabuk pengaman, dan para staf yang mendampingi juga dilengkapi dengan tali pengaman yang akan menjaga keamanan dan keselamatan mereka saat di udara.

Petugas pengawas keselamatan akan memberikan penyuluhan mengenai regulasi keselamatan kepada para tamu sebelum platform dinaikkan dan akan senantiasa berkomunikasi dengan operator juga staf di darat. Sehingga bisa mendatangkan rasa adrenalin yang berbeda.

“Bisa menjadi pusat lifestyle untuk para generasi yang muda dan bersemangat untuk bertemu dan berkolaborasi,” kata Presiden Direktur dari Humpuss Land Darma Mangkuluhur Hutomo.

“Kita semua butuh sebuah perayaan dan melakukan sesuatu yang menyenangkan setelah hampir 2 tahun berada di rumah saja. Di mana lagi tempat yang lebih baik untuk melakukannya selain di langit,” ujar Founder dan CEO dari DITS Asia Arvin Randahwa.

Sekretaris Dinas Parisiwata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta Gumilar Ekalaya mengungkapkan pihaknya mendorong pemulihan industri pariwisata, khususnya di Jakarta. Pandemi ternyata memberikan penurunan pendapatan asli daerah hingga 70 persen.

“Pengalaman ini bisa memberikan sinyal positif guna meningkatkan kunjungan wisata di Jakarta,” tutur Gumilar. (*)

Update