Minggu, 25 Januari 2026

Lebih Bahaya Penyakit GERD atau Maag? Ini Penjelasan Dokter

Berita Terkait

ilustrasi asam lambung naik. (pexels)

batampos – Banyak orang mengira penyakit maag dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) sama bahayanya. Namun, Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI–RS Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, menegaskan bahwa GERD justru lebih parah dibanding maag karena bisa menyebabkan kerusakan pada kerongkongan.

“Kalau saya tanya pada pasien atau saat acara seperti ini, lebih parah mana sakit maag dengan GERD? Sudah pasti lebih parah sakit GERD. Kalau sakit maag itu ada cuma di lambung saja, tapi kalau sakit GERD, dia naik ke atas,” jelasnya, dilansir dari Jawapos.com, Sabtu (16/8).

Ia menerangkan, perbedaan mendasar dua penyakit itu terletak pada arah gangguan yang ditimbulkan. Pada maag, keluhan hanya terbatas di lambung.

Sementara GERD menyebabkan asam lambung naik kembali ke kerongkongan sehingga menimbulkan luka (perlukaan) yang berisiko memicu komplikasi serius.

Menurut Prof. Ari, salah satu penyebab GERD adalah meningkatnya tekanan (pressure) di dalam lambung. Kondisi ini lebih berisiko pada pasien diabetes mellitus (DM) yang mengalami gastroparesis atau kelemahan kerja lambung.

“Kalau pasien dengan DM, lambungnya ini kerjanya jadi lemah. Pengosongan lambung jadi tidak bagus, akhirnya terjadi peningkatan tekanan, lalu isi lambung naik kembali ke esofagus,” paparnya.

Gejala GERD, lanjutnya, bisa berupa nyeri perut, kembung, sensasi panas di dada, hingga gejala mirip asma yang memburuk saat tidur. Meski demikian, perubahan gaya hidup seperti mengatur pola makan, menghindari makanan pemicu, dan tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dapat membantu mengurangi gejala.

“Dalam beberapa kasus, obat atau operasi tidak diperlukan jika perubahan gaya hidup dilakukan dengan baik,” kata Prof. Ari. Dengan memahami perbedaan maag dan GERD, masyarakat diharapkan lebih waspada.

“GERD bukan sekadar masalah asam lambung biasa, melainkan gangguan yang bisa merusak jaringan kerongkongan dan menurunkan kualitas hidup penderitanya,” tegas Prof. Ari. (*)

SourceJPGroup

Update