Batampos – Ketegangan antara Thailand dan Kamboja yang meningkat, diakibatkan sengketa kuil kuno di wilayah perbatasan kedua negara. Adalah Kuil Ta Moan Thom dan juga Ta Krabey di wilayah perbatasan tempat kedua pihak menempatkan pasukan.

Beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet memperingatkan, negaranya siap menggunakan kekuatan militer jika pasukan Thailand kembali memasuki kawasan tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah insiden pada Februari 2025, ketika terjadi konfrontasi antara tentara Thailand dan Kamboja di sekitar kompleks kuil, yang kemudian memicu protes resmi dari Kementerian Pertahanan Thailand.
Kamboja menuduh pasukan Thailand ditempatkan secara ilegal di dekat kompleks kuil tersebut, sementara Thailand menegaskan, kawasan itu berada dalam wilayah yurisdiksinya. Terbaru, kedua negara pun saling bentrok yang mengakibatkan puluhan warga sipil tewas dan 500 ribu warga lainnya mengungsi.
Kuil kuno, seperti Kuil Ta Krabey menjadi salah satu titik panas dalam konflik perbatasan kedua negara ini. Situs candi bersejarah ini tidak hanya penting secara budaya tetapi juga menjadi simbol klaim kedaulatan nasional yang memicu ketegangan militer berulang di sana.
Kuil Ta Krabey atau Prasat Ta Krabey merupakan kompleks candi kuno yang dibangun abad ke-12 atau ke-13 dalam gaya arsitektur Bayon dan terletak di kawasan Pegunungan Dangrek yang membentang di sepanjang perbatasan Kamboja–Thailand.
Nama “Ta Krabey” berarti “kakek kerbau”, mengacu pada legenda lokal dan simbolisme di situs tersebut. Tempat ini memiliki satu bangunan utama dengan empat gapura dan dihiasi ukiran khas Angkor yang mencerminkan warisan Hindu-Buddha. Kuil ini dikelilingi hutan pegunungan yang sejuk dan menjadi lokasi strategis yang menarik bagi wisatawan sejarah.
Situs Sengketa Berujung Konflik di Perbatasan
Ta Krabey berada di wilayah yang diklaim oleh kedua negara, Thailand dan Kamboja. Pemerintahan Kamboja menilai, kuil tersebut terletak di provinsi Oddar Meanchey, sementara Thailand menyatakan, lokasi itu berada di distrik Phanom Dong Rak, Provinsi Surin. Sengketa atas kepemilikan tanah di sekitar kuil ini telah menjadi bagian dari perselisihan batas yang lebih luas selama ratusan tahun hingga kini.
Kamboja telah membawa sengketa Ta Krabey, bersama tiga area lain seperti Ta Moan Thom, Ta Moan Tauch, dan Mom Bei ke Mahkamah Internasional (ICJ) pada Juni 2025 lalu. Mereka meminta penegasan hukum atas klaim wilayah tersebut. Demikian dilansir dari EAC News.
Sementara itu, pemerintah Thailand menolak mengakui yurisdiksi ICJ dalam beberapa aspek sengketa dan lebih memilih penyelesaian melalui negosiasi bilateral. Ketegangan diplomatik ini turut memperumit upaya damai di wilayah yang tengah berkonflik tersebut.
Lebih dari sekadar situs arkeologi, Ta Krabey menjadi simbol kedaulatan nasional yang penting bagi kedua negara. Selama beberapa dekade, militer Thailand dan Kamboja sering terlibat konfrontasi di sekitar kuil ini, termasuk bentrokan kecil bahkan insiden penutupan pos lintas perbatasan setelah insiden yang dianggap provokatif oleh salah satu pihak.
Dalam bentrokan yang terjadi sepanjang 2025, kawasan kuil dan sekitarnya menjadi salah satu titik pertikaian utama, di mana kedua belah pihak mengerahkan pasukan dan teknologi militer untuk mengamankan posisi mereka.
Penghancuran atau kerusakan situs bersejarah seperti Ta Krabey telah memicu kecaman dari kementerian kebudayaan Kamboja, yang menyerukan Condemnation dari organisasi internasional seperti UNESCO dan ASEAN untuk melindungi warisan budaya ini dari dampak konflik.
Sebagai salah satu warisan budaya yang mencerminkan sejarah masa lalu Asia Tenggara, perlindungan situs seperti Ta Krabey menjadi bagian penting dari upaya menjaga perdamaian dan kerjasama di kawasan yang secara historis sarat dengan perbedaan interpretasi sejarah dan peta perbatasan kolonial.
Dibutuhkan solusi damai, guna menghindari kerusakan situs budaya bersejarah di lokasi konflik, seperti di kawasan kuil ini. (*)
