Minggu, 25 Januari 2026

Kopi Way Tanjungpinang, Racikan Lokal dengan Rasa dan Identitas Budaya Melayu

Berita Terkait

Kopi Way
Herri Wijaya saat memproses biji kopi mentah di outlet Kopi Way Tanjungpinang. F. Yusnadi Nazar/Batam Pos.

batampos – Di tengah maraknya kedai kopi dan café kekinian di Tanjungpinang, ada satu nama yang berhasil mencuri perhatian dan melekat di lidah anak muda, Kopi Way. Dikenal sejak 2024, kopi racikan lokal ini perlahan menjelma menjadi identitas baru dalam dunia perkopian di Tanjungpinang.

Kopi Way menawarkan sensasi rasa yang lembut, harum, namun tetap halus di tenggorokan. Tidak hanya menjual rasa, Kopi Way juga menyuguhkan cerita di balik nama dan branding-nya yang kuat.

Herrie Wijaya (35), pencetus Kopi Way, mengatakan nama tersebut terinspirasi dari istilah sapaan khas Melayu, yaitu “way”, yang berarti ajakan atau kawan.

“Nama Kopi Way itu gampang diingat dan punya unsur kedaerahan, khas Melayu Tanjungpinang,” ujarnya saat ditemui di outlet Kopi Way, Jalan Sumatera, Jumat (1/8).

Dibalik kenikmatannya, Kopi Way diracik langsung oleh barista dan roaster bersertifikasi, yang semuanya merupakan anak muda asli Tanjungpinang.

Biji kopi mentah jenis robusta dan arabika dipilih langsung dari petani di Temanggung (Jawa Tengah) dan Kerinci (Jambi), kemudian diolah menggunakan mesin roastery milik sendiri.

“Kopi kami proses sendiri, dari roasting sampai penggilingan. Diseduh pakai teknik tubruk, dan semua barista kami anak lokal,” jelas Herrie.

Kopi Way hadir dalam berbagai varian seperti Americano, matcha, hingga cokelat, lengkap dengan tambahan susu kental manis atau gula aren sesuai selera pelanggan.

Tak hanya itu, penyajian Kopi Way juga unik. Selain tersedia di outlet utama, produk ini juga dipasarkan menggunakan gerobak listrik keliling yang mangkal di beberapa titik kota.

“Kalau di outlet sistemnya take away. Tapi kami juga punya gerobak keliling supaya lebih dekat dengan pelanggan,” terangnya.

Dengan harga terjangkau mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, Kopi Way kini bukan sekadar minuman, tapi juga bagian dari gaya hidup dan identitas Tanjungpinang yang membawa cita rasa lokal dan budaya Melayu dalam setiap tegukannya. (*)

Reporter: Yusnadi Nazar 

Update