Minggu, 8 Maret 2026

Kontroversi Grammarly: AI Gunakan Identitas Jurnalis dan Akademisi Tanpa Izin

Berita Terkait

Sumber gambar: x.com/TyCarver.

batampos – Perusahaan teknologi penulisan digital Grammarly tengah menjadi sorotan setelah fitur kecerdasan buatan (AI) terbarunya memicu kontroversi di kalangan jurnalis dan akademisi.

Fitur bernama Expert Review dilaporkan menghasilkan saran penulisan yang dikaitkan dengan nama penulis, jurnalis, hingga pakar terkenal. Namun, sejumlah pihak mengaku tidak pernah memberikan izin agar identitas mereka digunakan dalam sistem tersebut.

Kontroversi mencuat setelah beberapa reporter menemukan nama mereka muncul sebagai “pakar” yang seolah-olah memberikan komentar terhadap tulisan pengguna Grammarly.

Padahal, para jurnalis tersebut menegaskan tidak pernah bekerja sama dengan Grammarly ataupun menyetujui penggunaan nama serta gaya penulisan mereka dalam fitur tersebut.

Fitur Expert Review dirancang untuk menganalisis teks pengguna lalu memberikan kritik atau saran penulisan yang seakan berasal dari perspektif tokoh tertentu, seperti penulis terkenal, jurnalis teknologi, atau akademisi.

Namun pada praktiknya, komentar tersebut sepenuhnya dihasilkan oleh sistem AI yang meniru gaya atau pendekatan para tokoh tersebut berdasarkan karya yang tersedia secara publik.

Kritik semakin menguat setelah diketahui bahwa sistem itu juga meniru perspektif sejumlah ilmuwan dan penulis yang telah meninggal dunia.

Sejumlah akademisi menilai praktik tersebut tidak etis, karena memanfaatkan nama dan reputasi ilmuwan untuk meningkatkan kredibilitas produk AI tanpa persetujuan mereka maupun keluarga mereka.

Para pakar hukum dan teknologi juga menyoroti potensi masalah hukum dari praktik tersebut.

Penggunaan nama dan identitas seseorang dalam produk komersial tanpa izin dapat melanggar hak identitas atau right of publicity. Selain itu, persoalan hak cipta juga dapat muncul jika sistem AI dilatih menggunakan karya mereka tanpa lisensi yang jelas.

Menanggapi kritik tersebut, Grammarly menyatakan sistemnya hanya mengambil inspirasi dari karya para ahli yang tersedia secara publik.

“Terinspirasi dari karya para ahli yang tersedia secara publik,” ujar pihak Grammarly seperti dikutip dari Decrypt, Minggu (8/3).

Perdebatan mengenai etika penggunaan identitas manusia oleh teknologi AI diperkirakan akan terus berkembang seiring pesatnya kemajuan kecerdasan buatan di industri digital. (*)

SourceThe Verge

Update